sumber gambar : literasi[dot]jabarprov[dot]go[dot]id.
Geliat aktifitas literasi dan kepenulisan generasi
muslim belakangan ini memang begitu menggairahkan. Hal ini seolah memberikan
banyak harapan dan angin segar kebangkitan. Apalagi dengan berbagai kemudahan
fasilitas berkarya dan memublikasikannya. Geliat ini bukan sekedar isapan
jempol. Karena sebuah tulisan, konon bisa memberikan pengaruh yang lebih besar
dan lebih lama dibandingkan sebuah ucapan. Sehingga sangatlah besar ekspektasi terhadapnya;
geliat kepenulisan generasi muslim akan menghantarkan pada geliat kebangkitan Islam.
Sebagaimana aktifitas membaca, sebenarnya
aktifitas menulis tidaklah akan menghantarkan pada kebangkitan masyarakat.
Karena pada hakikatnya, membaca dan menulis hanyalah bagian dari sarana
penyerapan dan penyampaian informasi. Informasi tersebutlah yang akan disimpan
sebagai pemikiran di dalam otak kemudian pandangan hidup (aqidah) yang dimiliki
setiap insan akan menentukan apakah pemikiran tersebut akan ia adopsi ataukah
tidak.
Adapun mengenai beberapa pemikir Islam yang menceritakan
peran berbagai tulisan terhadap kemunduran Islam. Misal, Syaikh Taqiyuddin
An-Nabhani yang menceritakan tentang bagaimana peran tulisan-tulisan filsafat
terhadap kemunduran Islam. Kemudian Dr. Abdullah Azzam yang menceritakan
tentang peran berbagai tulisan yang menyuarakan kebencian terhadam Islam dan
khilafah. Atau Snouck Hurgronje yang merekomendasikan Hindia Belanda supaya
kaum muslim tidak memahami kitab Al Quran. Berbagai fakta tersebut bukanlah semata
tentang aktifitas membaca dan menulis, namun mengenai apa yang tertuang dalam sebuah
tulisan atau bacaan.
Tentu saja ada perbedaan antara aktifitas membaca
dan menulis dengan tulisan dan bacaan. Misalkan saja dengan menyemarakkan gerakan
menulis maka terlahirlah ratusan penulis. Akan tetapi mereka menulis berbagai
karya yang bertemakan ketidakpercayaan diri atau kepasrahan dalam menghadapi penjajahan.
Bahkan sebagian besar di antaranya ikut menyuarakan berbagai paham yang diemban
oleh para imperialis. Selanjutnya, masyarakat digerakkan untuk membaca semua
karya para penulis tersebut. Kira-kira, akan bangkitkah masyarakat? Jelas
tidak, malah masyarakat akan semakin terpuruk karenanya. Hal ini karena pemikiran
yang terkandung dalam tulisanlah yang mempengaruhi benak masyarakat.
Tulisan merupakan buah pemikiran. Ia tidak
membangkitkan, namun pemikiran yang tertuang dalam tulisanlah yang akan menentukannya,
apakah akan mengantarkan kepada kebangkitan atau justru malah semakin
memperburuk keadaan. Sebagaimana berbagai tulisan yang banyak mengandung
pornokata atau seruan agar generasi muslim bergaya hidup bebas dan hedonis, bukannya
membangkitkan malahan semakin memperburuk keadaan.
Kebangkitan manusia hanya akan terjadi apabila
terjadi kebangkitan pemikiran. Adapun kebangkitan pemikiran akan sangat
tergantung pada keshahihan pemikiran asasi yang diadopsi masyarakat. Bagi kaum
muslim, pemikiran asasi yang shahih hanyalah Aqidah Islamiyyah.
Selain itu, sebuah pemikiran pun tidaklah
cukup dituangkan ke dalam buku dan tulisan. Supaya membangkitkan, pemikiran
tersebut haruslah diemban atau didakwahkan. Sebagaimana ketika Al Quran diturunkan kepada Rasulullah
Saw; ia tak hanya dituliskan dalam pelepah kurma, batu, lembaran kulit dan
sebagainya, namun diemban melalui aktifitas dakwah oleh Rasulullah Saw dan para
shahabat r.a.
Geliat dunia kepenulisan patut diapresiasi,
namun apabila materi yang yang dituangkan ke dalam tulisan dipisahkan dari Aqidah
Islam. Atau justru masih berupa tulisan-tulisan yang meninabobokan masyarakat supaya
pasrah atas kezaliman sekulerisme dan ketidakadilan yang diakibatkan olehnya.
Sungguh, geliat literasi muslim hanya akan mengantarkan pada sebuah kebangkitan
semu.
Agar dunia kepenulisan tak terjebak pada
kebangkitan semu, maka para penulis muslim harus mengawal geliat literasi umat
Islam ini agar selalu menuangkan ide-ide Islam yang mencerahkan dan
membangkitkan. Begitu pula mengemban ide-ide mulia tersebut dalam sebuah aktifitas
dakwah yang berkelanjutan di tengah masyarakat. Wallohu a'lamu bishshowwaab.
(Ary H. - Pengelola FP Mudah Nulis)

Komentar
Posting Komentar