Sumber Gambar : ultimatesammy.wordpress[dot]com
Pernahkah kita bercerita sebuah kisah pengantar tidur? Bagaimanakah
jika kita hanya punya satu kisah? mungkin akan terus menerus saja kita ulang
kembali kisah tersebut. Pasti yang mendengarnya lama kelamaan menjadi bosan. Bahkan
mungkin bukan hanya pendengarnya, kita sendiri yang bercerita juga akan bosan
juga. Rasanya tidak ada yang baru dari apa yang kita ceritakan, itu-itu saja.
Hal itu tak akan jauh beda dengan aktifitas menulis. Jika kita
hanya punya satu bahan untuk dituliskan, tentu akan tulisan itu-itu saja yang
kita ulang. Lama-kelamaan kita akan bosan menuliskannya karena kesulitan cari
ide yang baru. Bagaimana bahan-bahan tulisan itu muncul ke benak kita, tentu
dengan banyak proses. Yang paling utama adalah membaca.
Karena itu jika kita macet menulis, mari introspeksi diri berapa
jam waktu yang kita habiskan untuk membaca? Berapa buku yang telah kita baca
dalam sebulan ini? Jangan-jangan keseriusan membaca kita masih minim. Sehingga
wajar saja jika kita macet menulis.
Allah Swt memberikan potensi berpikir pada manusia yang meliputi
empat komponen. Yaitu 1) Fakta/Objek 2) Alat indera 3) Otak yang sehat dan 4)
Informasi sebelumnya. Untuk dapat berpikir, semua komponen berpikir ini harus
lengkap dan tak kurang satu pun. Membaca akan menyimpan banyak informasi; ia
mengayakan komponen ke-4 dalam proses berpikir. Semakin kaya informasi yang
kita simpan, tentu semakin variatif juga tulisan kita.
Bagi seorang penulis, membaca merupakan aktifitas penyerapan
informasi yang paling penting. Hal ini dikarenakan membaca mempunyai bentuk komunikasi
yang sama dengan aktifitas kita. Menyerap tulisan untuk disampaikan menjadi
tulisan. Ini akan lebih mudah dibandingkan mengubah dari bahasa verbal menjadi
tulisan. Sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para wartawan. Selain itu juga, aktifitas
membaca dapat memberikan pengalaman baru dalam bertata bahasa. Kita bisa
melihat bagaimana penulis lain menyampaikan ide dan gagasan mereka. Sehingga
kita bisa mengambil banyak pelajaran dari aktifitas tersebut.
Dalam buku Mudah Menulis Opini, saya sudah menjelaskan tentang
manfaat membaca bagi para penulis. Bahkan saya sampaikan bahwa membaca dan
menulis itu ibarat dua sisi mata uang. Satu dengan yang lainnya tak bisa
dipisahkan.
Karena itulah, jika kita mengalami macet menulis. Membacalah!
insyaAllah, ide-ide tentang tema tulisan atau cerita pasti akan berdatangan
setelahnya. Teko saja selalu mengalirkan isinya, sedangkan Allah Ta'ala menciptakan otak kita jauh lebih canggih daripadanya.

Komentar
Posting Komentar