Tulisan kita terlahir dari dua hal tersebut. Ia buah
pemikiran dari pemahaman atas konsep kehidupan. Mau tidak mau, tulisan kita
kita akan dipengaruhi oleh keyakinan akan dari manakah semua kehidupan ini
berasal? Dari Allah Swt atau dari yang lain. Tulisan kita pun akan dipengaruhi
oleh keyakinan tentang untuk apakah hidup kita ini, untuk menghamba kepada
Allah Swt atau untuk yang lain.
Begitu pula akan dipengaruhi oleh keyakinan tentang
akan kemanakah semua kehidupan ini tatkala sudah berakhir. Ketiga hal inilah
yang menjadi pondasi atas sebuah konsep kehidupan.
Sebuah tulisan akan memanfaatkan berbagai benda yang
bersifat material. Kita pernah mengenal lembaran kulit, batu, pelepah kayu dan
batu di jaman dulu. Begitu pula kita saat ini menggunakan kertas, layar
komputer atau handphone, jaringan internet dan sebagainya. Semua itu dibuat
untuk memudahkan manusia.
Tentang konsep kehidupan, Allah Swt membimbing manusia
melalui firman-Nya.
"Sesungguhnya agama (yang diterima) di sisi Allah
hanyalah Islam." (TQS. Ali
Imran[3]: 19)
Begitu pula di dalam ayat lain ditegaskan,
"Dan barangsiapa yang berharap kepada selain
Islam sebagai agama, maka tidak akan pernah diterima darinya dan dia di akhirat
termasuk kalangan orang-orang yang rugi."
(TQS. Ali Imran[3] : 85)
Oleh karena itu, hanya seperangkat konsep kehidupan
Islam-lah yang akan diterima oleh Allah Swt. Sehingga, tak selayaknya kita
memakai konsep kehidupan lain untuk dituangkan dalam tulisan kita. Sejatinya,
perintah dan larangan Allah Swt yang mesti menjadi pengendali karya kita.
Karena percuma saja karya hebat jika tetap mengabaikan perintah dan menabrak
larangan Allah Swt.
Pada saat Cyprus dibebaskan oleh kaum muslim, semua
orang bergembira terkecuali Abu Darda r.a, ia terlihat menangis. Jubair bin
Nafir memberanikan dirinya untuk bertanya tentang alasan tangisan Abu Darda
r.a. Ia menjawab,"Jubair, sangat disayangkan. Alangkah hinanya makhluk di
sisi Allah bila mereka meninggalkan perintah-Nya. Saat mereka menjadi umat
perkasa, menang dan memiliki kekuasaan, mereka tinggalkan perintah Allah, maka
mereka menjadi seperti apa yang kamu lihat." (Rijal[un] haula ar-Rasul[i],
Khalid Muhammad Khalid)
Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah di atas,
sungguh aturan Allah Swt lebih jauh berharga daripada karya yang kita hasilkan.
Apalah artinya buku best seller jika tak sejalan dengan Islam, atau merendahkan
Islam hanya sekedar untuk mencari sensasi dan menghamba pada kucuran dana para
kapitalis penjajah yang anti terhadap perjuangan Islam.
Namun bukan berarti kita menggebyah uyah
menjadi benci terhadap segala apapun yang berasal dari non muslim. Karena jika
terkait madaniyah yang bersifat umum (tidak dipengaruhi oleh konsep hidup
tertentu), maka hal tersebut dibolehkan.
Rasulullah Saw pernah mengecam Adi bin Hatim ketika ia
memakai kalung salib yang terbuat dari emas. Beliau bersabda, "Hai Adi,
buanglah berhala itu darimu!”
Meskipun kalung itu berupa benda, tetapi bentuknya
sudah menandakan konsep kehidupan tertentu, yakni agama Nashrani.
Begitu pula halnya yang dilakukan oleh Khalifah Umar
bin Al Khaththab r.a. ketika mendapat
pengaduan dari Saad bin Abi Waqqash tentang kitab-kitab bangsa Persia. Dengan
penuh ketegasan, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a. berkata:
"Lemparkan buku-buku tersebut ke air
(sungai/laut). Jika di dalamnya ada petunjuk, maka sungguh Allah telah
menunjuki kita dengan yang lebih baik dari itu (hidayah Islam). Jika di
dalamnya terdapat kesesatan, maka sungguh Allah telah mencukupi kita."
(Tarikh Ibnu Khaldun, I/631. Al Waie No.186, M.Taufik
N.T.)
Adapun terkait madaniyah yang bersifat umum tidaklah
dikecam oleh Rasulullah Saw. Rasulullah Saw pernah mengangkat Salman Al Farisi
untuk memproduksi Manjaniq yang diadopsi dari negara majusi Persia. Padahal,
Manjaniq sebenarnya telah dikenal sebelum masa penaklukan Islam. Bangsa Avar
pernah menggunakannya pada penyerbuan Thessalonica di tahun 597 M. Bahkan mesin
pelontar ini dipercayai dicipta pertama kali oleh China antara abad ke-5 dan
ke-3 SM, dan sampai ke Eropa sekitar 500 M. (globalmuslim[dot]web.id).
Beliau Saw pun pernah memanfaatkan ilmu kedokteran dan
ilmu baca tulis dari orang luar Islam yang ditawan pasukan Islam. Hal ini
menunjukkan bahwa hal sains dan teknologi bersifat netral.
Alhasil, sebagai penulis muslim selayaknya kita
memahami batasan-batasan ini. Dalam hal pemikiran tentang konsep kehidupan kita
hanya mengambil Islam. Adapun dalam hal penuangan karya, untuk
memublikasikannya kita boleh menggunakan teknologi semisal internet karena
merupakan madaniyah yang bersifat umum. Wallahu a'lamu bishshowwaab.
= Ary H. =

Komentar
Posting Komentar