Langsung ke konten utama

Kaum Mukmin Diwajibkan Melaksanakan Qishosh

 


Di dalam QS. Al Baqoroh terdapat 11 ayat yang dimulai dengan frasa (يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا), dan yang ketiganya adalah Q.S. Al Baqoroh ayat ke 178. Permulaan ayatnya dan perintahnya menggunakan lafazh yang sama sebagaimana perintah kewajiban shaum Ramadhan, namun kenyataan dalam penjelasan dan penekanannya tidaklah sebagaimana ayat tentang shaum Ramadhan.

Dalam QS. Al Baqoroh : 178, Allah Swt berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِى الْقَتْلٰىۗ اَلْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْاُنْثٰى بِالْاُنْثٰىۗ فَمَنْ عُفِيَ لَهٗ مِنْ اَخِيْهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ ۢبِالْمَعْرُوْفِ وَاَدَاۤءٌ اِلَيْهِ بِاِحْسَانٍ ۗ ذٰلِكَ تَخْفِيْفٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ ۗفَمَنِ اعْتَدٰى بَعْدَ ذٰلِكَ فَلَهٗ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian (melaksanakan) qisas berkenaan dengan orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. Tetapi barangsiapa memperoleh maaf dari saudaranya, hendaklah dia mengikutinya dengan baik, dan membayar diat (tebusan) kepadanya dengan baik (pula). Yang demikian itu adalah keringanan dan rahmat dari Tuhanmu. Barangsiapa melampaui batas setelah itu, maka ia akan mendapat azab yang sangat pedih.

Bahkan apabila kita teruskan ayat ini ke ayat selanjutnya, yakni QS. Al Baqoroh : 179, kita pun akan menemukan akhir kalimat yang sama sebagaimana ayat tentang tujuan kewajiban shaum Ramadhan. Yakni, “supaya kalian bertaqwa.”

وَلَكُمْ فِى الْقِصَاصِ حَيٰوةٌ يّٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Dan dalam qishosh itu ada (jaminan) kehidupan bagi kalian, wahai orang-orang yang berakal, agar kalian bertakwa.

Oleh karena itu, tidak ada makna lain terkait dengan perintah Allah Swt ini selain bermakna wajib. Kata “Kutiba” bermakna “furidlo (diwajibkan)”, tidak ada makna yang lain. Dan tujuan dari pelaksanaan hukum Qishosh ini adalah ketaqwaan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menyampaikan dalam tafsirnya bahwa Allah Swt mewajibkan kepada para hamba-Nya yang beriman untuk melaksanakan hukum Qishosh berkenaan dengan orang yang dibunuh, yakni kesetaraan di dalamnya, membunuh pelaku pembunuhan sebagaimana cara ia melakukan pembunuhan, sebagai penegakkan keadilan atas manusia. Dan kalimat yang ditujukan untuk orang beriman secara keseluruhan (kaum muslim) menandakan bahwa hal ini wajib bagi atas mereka semuanya.

Imam Thabari pun dalam tafsirnya menyatakan “furidlo ‘alaikum” (diwajibkan atas kalian). Begitu pula apabila kita membaca tafsir Ibnu Katsir, bahwa sababun nuzul ayat ini adalah berkaitan dengan kewajiban pelaksanaan hukum Qishosh, bukan yang lain.

Dalam kitab At Taysir fi Ushuli Attafsir, Syaikh Atha ibnu Khalil Ar Rasytah menegaskan bahwa kata “kutiba” di dalam QS. Al Baqoroh : 178 merupakan qorinah (indikasi) yang bersifat tuntutan tegas, sehingga hukum Qishosh wajib dilaksanakan berkenaan dengan orang yang dibunuh.

Lalu, bagaimanakah pelaksanan hukum Qishosh itu bisa terdapat kehidupan di dalamnya? Bukankah pelaku pembunuhan justru dibunuh Kembali? Syaikh Abdurrahman Al Maliki menyampaikan dalam Nidzomul ‘Uqubat  fil Islam bahwa pelaksanaan sanksi dalam syariah Islam itu memiliki 2 fungsi, yakni Jawabir (pengguru dosa) dan Jawazir (pencegah masyarakat lain melakukan kejahatan yang serupa). Terkait fungsi kedua inilah sehingga akan mencegah terjadinya kejahatan pembunuhan. Orang yang berniat membunuh akan berpikir ulang seribu kali untuk melakukannya mengingat sanksi yang akan ia terima nantinya. Dari sinilah tentu akan banyak kehidupan manusia yang terjaga.

Inilah ayat ketiga yang dimulai dengan frasa (يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا) di dalam Al Quran sesuai dengan runutan tauqifiyah ayat Al Quran. Dan ayat ini hanya berselang 5 ayat sebelum ayat yang mewajibkan shaum Ramadhan kepada orang-orang yang beriman.

Bila kita bandingkan QS. Al Baqoroh : 178 ini dengan ayat tentang kewajiban shaum Ramadhan (QS. Al Baqoroh : 183). Kita mendapat perintahnya sama, berasal dari Allah Al Hakim. Orang yang diserunya juga sama, yakni orang-orang yang beriman. Kalimat yang bermakna wajibnya pun sama dengan kalimat “kutiba”. Tujuan pelaksanaan perintahnya juga sama, yakni supaya bertaqwa. Lalu mengapa tidak sedikit dari kita yang menyikapinya secara berbeda? Memang benar, dalam pelaksanaannya membutuhkan peran penguasa dan kesadaran masyarakat. Tetapi mungkinkah kesadaran tersebut tumbuh bila tidak ada dakwah dan penjelasan? Wallohu a’lamu bisshshowwab.    

Komentar

Populer di Blog Ini

Agar Cinta Menulis

Mencintai pekerjaan adalah sesuatu hal yang sangat penting, begitulah pandangan keumuman kita. Bahkan, keahlian seseorang seringkali dihubungkan dengan kecintaannya pada suatu pekerjaan. Mencintai terlebih dulu pekerjaannya, barulah ada garansi untuk menjadi ahli karenanya. Dunia menulis pun tak luput dari pandangan tersebut. Untuk menjadi penulis, biasanya kita menghubungkannya dengan kecintaan seseorang terhadap aktifitas menulis. Misal, ketika seseorang suka menulis sedari kecil, disimpulkanlah bahwa ia berbakat menjadi seorang penulis. Benarkah mesti demikian adanya? Penulis tidak membantah adanya kesukaan seseorang terhadap menulis sedari kecil. Mungkin memang benar demikian adanya. Penulis pun tak menampik bahwa mencintai menulis adalah sesuatu yang penting. Karena, cinta menulis akan membuat kita enjoy bersamanya. Namun, penulis kurang setuju jika cinta menulis merupakan bakat bawaan sedari lahir. Sehingga, ia tak bisa disemai dan ditumbuhkan. Ada dua hal pokok yang b...

Mengawal Gerakan Literasi

sumber gambar : literasi[dot]jabarprov[dot]go[dot]id. Geliat aktifitas literasi dan kepenulisan generasi muslim belakangan ini memang begitu menggairahkan. Hal ini seolah memberikan banyak harapan dan angin segar kebangkitan. Apalagi dengan berbagai kemudahan fasilitas berkarya dan memublikasikannya. Geliat ini bukan sekedar isapan jempol. Karena sebuah tulisan, konon bisa memberikan pengaruh yang lebih besar dan lebih lama dibandingkan sebuah ucapan. Sehingga sangatlah besar ekspektasi terhadapnya; geliat kepenulisan generasi muslim akan menghantarkan pada geliat kebangkitan Islam.    Sebagaimana aktifitas membaca, sebenarnya aktifitas menulis tidaklah akan menghantarkan pada kebangkitan masyarakat. Karena pada hakikatnya, membaca dan menulis hanyalah bagian dari sarana penyerapan dan penyampaian informasi. Informasi tersebutlah yang akan disimpan sebagai pemikiran di dalam otak kemudian pandangan hidup (aqidah) yang dimiliki setiap insan akan menentukan apakah pe...

Langkah Praktis Menulis Via Blog Mulai dari Nol

Rekan-rekan semua, berikut akan saya paparkan bagaimana tips praktis membuat blog dengan blogger. Mari kita ikuti langkah-langkah berikut : Bagi yang belum punya email, masuk ke  www.gmail.com Pilih  Buat akun   Isi formulir pada tampilan berikut dan ikuti langkah sampai konfirmasi bahwa email sudah aktif.   Jika email sudah aktif, silahkan masuk ke  www.blogger.com Klik  Tambahkan Akun  pada tampilan berikut : Setelah muncul tampilan di bawah ini,  Masukkan email rekan-rekan semua, sebagai contoh saya masukkan email saya ary.smknkadipaten@gmail.com, klik berikutnya, lalu isikan password email rekan-rekan semua. Pilih Buat Profil Google+ lalu ikuti langkah selanjutnya (saya sarankan memakai identitas sesuai KTP, karena kita sedang membuat kartu nama di dunia maya). Sampai muncul seperti di bawah ini atau yang semisalnya (mungkin tampilan berbeda-beda tergantung lengkapnya langkah yang diambil). Lalu, pilih  Lanjutk...

Total Tayangan