Langsung ke konten utama

MUKMIN HARUS BERBEDA DENGAN YAHUDI DAN NASHRANI

Apabila kita membaca Al Quran sesuai dengan runutan tauqifiyah, mulai dari ayat pertama dari juz pertama hingga ayat terakhir dari juz terakhir. Maka kita akan membaca ayat pertama yang diawali dengan
"ياأيها الذين أمنوا" 
Yaitu QS. Al Baqarah ayat 104

Allah Swt berfirman :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقُولُوا۟ رَٰعِنَا وَقُولُوا۟ ٱنظُرْنَا وَٱسْمَعُوا۟ ۗ وَلِلْكَٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Hai orang-orang yg beriman, janganlah kalian mengatakan "ra-ina" tetapi katakanlah "unzhurna" dan dengarlah. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang sangat pedih." (TQS. Al Baqoroh : 104)

Imam Ibnu Katsir rohimahullohu ta'ala langsung menghubungkan ayat ini dengan hadits terkait larangan, peringatan, dan ancaman keras terhadap kaum mukmin untuk tidak meniru-niru orang kafir dalam ucapan, perbuatan, pakaian, hari raya, serta perkara-perkara lain yg tidak disyariatkan kepada kita dan yang tidak diakui dalam agama kita.

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka." 
(HR. Ahmad dari Abdullah bin Umar r.a.)

Ayat ini (QS. Al Baqoroh: 104) turun berkaitan dengan kaum muslim yang berada pada majlis Rasulullah Saw. Ketika mereka ketinggalan materi dalam apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw, mereka sering mengatakan "Ra-ina!" (Perhatikanlah atau lihatlah kami!) Ya Rasulullah! Maksudnya, kami ketinggalan, kami sangat butuh apa yang engkau sampaikan.

Kata "Ra-ina" ini didengar oleh orang-orang Yahudi. Dan kata ini kemudian dijadikan bahan ejekan dan cacian terhadap Rasulullah Saw. Karena dlm dialek Yahudi, kata "Ra-ina" ini dekat dengan "Ru'unah" yang berarti pandir atau bodoh. Oleh karena itu turunlah ayat ini, supaya para shahabat mengganti kata tersebut dengan "Unzhurna" (lihatlah kami! Perhatikanlah kami!) Ya Rasulullah. 

Secara arti, kata "Ra-ina" dan "Unzhurna" itu sama. Tetapi kata "Ra-ina" dijadikan jalan oleh orang-orang Yahudi untuk mengolok-olok Rasulullah Saw dan para shahabatnya. Oleh karena itulah, ayat ini berhubungan erat dengan larangan keras bagi orang-orang beriman untuk menyerupai kaum Yahudi dalam seluruh ucapan dan perilaku mereka. 

Kata "Ra-ina" saja yang setadinya maknanya netral, ketika itu dipropagandakan oleh Yahudi untuk menista Rasulullah Saw dan  memusuhi Islam, dilarang keras oleh Allah Swt. Apalagi perilaku, aktifitas ibadah, pakaian, pemikiran dan lebih jauh lagi pandangan hidup dan jalan hidupnya orang Yahudi (begitu pula Nashrani serta kaum kafir lainnya.) Terlaranglah bagi orang-orang yang beriman untuk mengikutinya (membebek terhadapnya).

Anehnya, seringkali umat Islam itu latah. Latah karena merasa penyakit Inferior Complex (rendah diri yang kronis). Umat lain tak meminta kita meniru, dengan dalih khawatir dianggap fanatik dan sebagainya, umat Islam malah ikut-ikutan. 

Misal dalam mengucapkan salam saja. Umat Islam ikut-ikutan memakai salam khas umat lain. Padahal Rasulullah Saw telah mencontohkan ketika kedatangan Wahab bin Umar, sebelum ia masuk Islam. Wahab menemui Rasulullah dengan mengucapkan salam khas masyarakat jahiliyyah Makkah, "In'amu shobahan" (bersenang-senanglah di pagi hari). Tetapi Rasulullah Saw tidak menjawabnya. Beliau malahan memberikan penjelasan bahwa Allah Swt telah menggantikan kalimat tersebut bagi umat Islam dengan yang jauh lebih baik darinya, yakni "Assalamu 'alaikum." (Keselamatan atas kalian). Rasulullah Saw pun mendakwahi Wahab hingga akhirnya dia masuk Islam.

Apa konsekwensinya ketika orang-orang yang beriman tetap nekat untuk mengikuti orang-orang atau kaum di luar mereka. Di dalam hadits tersebut di awal, jelaslah kecaman keras dari Allah dan Rasul-Nya. "Maka dia termasuk golongan mereka (orang-orang kafir)". 

Mau?!?!? Na'udzu billahi min dzalik.

Wallohu al Hadi ila sabili ar Rosyadi. 


Komentar

Populer di Blog Ini

Agar Cinta Menulis

Mencintai pekerjaan adalah sesuatu hal yang sangat penting, begitulah pandangan keumuman kita. Bahkan, keahlian seseorang seringkali dihubungkan dengan kecintaannya pada suatu pekerjaan. Mencintai terlebih dulu pekerjaannya, barulah ada garansi untuk menjadi ahli karenanya. Dunia menulis pun tak luput dari pandangan tersebut. Untuk menjadi penulis, biasanya kita menghubungkannya dengan kecintaan seseorang terhadap aktifitas menulis. Misal, ketika seseorang suka menulis sedari kecil, disimpulkanlah bahwa ia berbakat menjadi seorang penulis. Benarkah mesti demikian adanya? Penulis tidak membantah adanya kesukaan seseorang terhadap menulis sedari kecil. Mungkin memang benar demikian adanya. Penulis pun tak menampik bahwa mencintai menulis adalah sesuatu yang penting. Karena, cinta menulis akan membuat kita enjoy bersamanya. Namun, penulis kurang setuju jika cinta menulis merupakan bakat bawaan sedari lahir. Sehingga, ia tak bisa disemai dan ditumbuhkan. Ada dua hal pokok yang b...

Mengawal Gerakan Literasi

sumber gambar : literasi[dot]jabarprov[dot]go[dot]id. Geliat aktifitas literasi dan kepenulisan generasi muslim belakangan ini memang begitu menggairahkan. Hal ini seolah memberikan banyak harapan dan angin segar kebangkitan. Apalagi dengan berbagai kemudahan fasilitas berkarya dan memublikasikannya. Geliat ini bukan sekedar isapan jempol. Karena sebuah tulisan, konon bisa memberikan pengaruh yang lebih besar dan lebih lama dibandingkan sebuah ucapan. Sehingga sangatlah besar ekspektasi terhadapnya; geliat kepenulisan generasi muslim akan menghantarkan pada geliat kebangkitan Islam.    Sebagaimana aktifitas membaca, sebenarnya aktifitas menulis tidaklah akan menghantarkan pada kebangkitan masyarakat. Karena pada hakikatnya, membaca dan menulis hanyalah bagian dari sarana penyerapan dan penyampaian informasi. Informasi tersebutlah yang akan disimpan sebagai pemikiran di dalam otak kemudian pandangan hidup (aqidah) yang dimiliki setiap insan akan menentukan apakah pe...

Langkah Praktis Menulis Via Blog Mulai dari Nol

Rekan-rekan semua, berikut akan saya paparkan bagaimana tips praktis membuat blog dengan blogger. Mari kita ikuti langkah-langkah berikut : Bagi yang belum punya email, masuk ke  www.gmail.com Pilih  Buat akun   Isi formulir pada tampilan berikut dan ikuti langkah sampai konfirmasi bahwa email sudah aktif.   Jika email sudah aktif, silahkan masuk ke  www.blogger.com Klik  Tambahkan Akun  pada tampilan berikut : Setelah muncul tampilan di bawah ini,  Masukkan email rekan-rekan semua, sebagai contoh saya masukkan email saya ary.smknkadipaten@gmail.com, klik berikutnya, lalu isikan password email rekan-rekan semua. Pilih Buat Profil Google+ lalu ikuti langkah selanjutnya (saya sarankan memakai identitas sesuai KTP, karena kita sedang membuat kartu nama di dunia maya). Sampai muncul seperti di bawah ini atau yang semisalnya (mungkin tampilan berbeda-beda tergantung lengkapnya langkah yang diambil). Lalu, pilih  Lanjutk...

Total Tayangan