![]() |
| sumber gambar : www.hellolombokku[dot]com |
Pantai Labuhan Haji semakin meneduh, bayangan Waru Laut menambah kesejukan sore di pantai itu. Udara yang bertambah dingin, seiring dengan air laut yang semakin pasang. Tidak seperti pantai yang menghadap ke arah Barat, Labuhan Haji tidak ramai dikunjungi orang untuk menikmati lelapnya matahari ke pangkuan lautan, tak berhias mega jingga yang memendar hingga ke pantai. Aku terus menggoyang penaku sembari menatap ombak. Sore yang dingin sering kulewati seraya bersender di bawah pohon Waru, untuk sekedar menulis bait demi bait puisi atau beberapa paragrap cerpen.
Terkadang aku ke pantai di pagi hari, seusai shalat shubuh. Sambil berolah raga dan menikmati terbitnya mentari pagi. Pantaiku ini menghadap ke arah timur tapi tak langsung menatap lautan lepas. Di seberang lautan sana terlihat siluet perbukitan pulau Sumbawa. Menikmati terbit mentari di pantai ini laksana membuka layar yang tertutup tirai. Tatkala sedikit demi sedikit tirainya terbuka, cerah pancaran mentari merona di balik Pulau Sumbawa, kemudian sinarnya terpendar hingga ke permukaan lautan. Subhanallah, sungguh indah kampung halamanku.
Selain suara deburan ombak, temanku hanyalah pena serta kertas bekas yang kuambil dari keranjang sampah sekolah. Kertas putih kusamlah tempat curahan hatiku. Seorang anak yatim, namun memiliki Inaq yang bertekad baja. Akan tetapi, meski kami hidup dalam keterbatasan harta, lisan Inaq selalu percaya diri. Lisan Inaq selalu kaya akan motivasi dan inspirasi.
Tadi malam, Inaq menemukan tulisanku di bawah bantal. Untuk yang ke sekian kalinya Inaq menyarankanku.
“Mengapa kamu sembunyikan karyamu, Nak?” Tanya Inaq padaku.
“Cobalah sekali-kali kau kirimkan ke koran-koran. Mereka pasti mau menerimanya,” lanjut Inaq.
“Aku malu Naq, tidak berani,” jawabku singkat.
Terkadang aku kesal dengan saran-saran Inaq. Aku menulis hanya sekedar mencurahkan penat. Aku menulis hanya untuk sekedar meluapkan harap. Hanya mimpi-mimpi yang kutuang dalam kata dan cerita, tidak lebih dari itu. Aku bukanlah seorang pujangga, tak jua punya keturunan sastrawan. Aku hanyalah anak seorang nelayan. Tulisanku dikirim ke koran? duh, malu-maluin deh! Mau ditaruh mana mukaku yang ga terlalu ganteng ini?
Inaq malah menghampiriku, lalu duduk di sampingku. Inaq merangkul pundakku dengan penuh kelembutan.
“Nak, jika mentari selalu sembunyi karena khawatir manusia akan mencerca teriknya, niscaya tak kan ada yang merasakan kehangatannya. Begitu pula jika rembulan selalu sembunyi karena takut manusia mencemooh wajah bopengnya, niscaya tak kan ada yang menikmati keindahannya,” ucap Inaq seraya terus mengusap-usap pundakku.
“Nak, Kamu kebangggan Inaq. Bagi Inaq, di kala Inaq mendapati terang kamu laksana mentarinya. Adapun di kala Inaq menghadapi gelap kamu laksana rembulannya,” Inaq lalu terdiam sesaat.
“Inaq memang tak pernah menikmati sekolah yang tinggi, tetapi jika Inaq membaca tulisan di koran-koran bekas yang Inaq temukan di pasar, karyamu sebanding dengan mereka. Cobalah, Nak! ga ada salahnya untuk mencoba,” pinta Inaq padaku.
Aku tak menjawab, aku terdiam dengan penuh keraguan. Dalam hatiku berkata, “Kata-kata Inaq mungkin ada benarnya, tetapi Inaq juga seharusnya mengerti akan keadaanku.”
Itulah nasihat Inaq tadi malam. Kata-kata Inaq terus terngiang-ngiang di telingaku hingga sore ini. Di pantai ini aku termangu seraya menatap Pelabuhan yang sepi tak bertuan. Padahal, Labuhan Haji dahulu sangatlah ramai. Ia merupakan tempat transit kapal-kapal para jemaah haji. Namun seiring dengan kemajuan sarana transportasi, pantai ini pun lama kelamaan menjadi sepi. Semua jamaah haji kali ini sudah berangkat menggunakan pesawat. Berbagai upaya telah dilakukan untuk membangkitkan kejayaan Sang Mantan, tetapi tetap saja tidak bisa seramai dulu kala.
Pada sore itu, satu persatu pengunjung beranjak meninggalkan pantai. Aku pun mulai membantu Inaq membereskan dagangannya. Maklum, hari itu merupakan hari terakhir bulan Sya’ban. Esok harinya, kaum muslim di seluruh dunia akan serentak berpuasa. Karena itulah Pantai sangat ramai, banyak keluarga yang menghabiskan waktu untuk sekedar berenang sembari menikmati berbagai sajian. Alhamdulillah jumlah pembeli pun berkali lipat dibandingkan hari biasa. Tidak kurang dari 100-an mie instan cup telah aku seduhkan siang itu. Padahal pada hari biasa, tidak pernah lebih dari 25 cup saja. Beberapa hari belakangan ini aku memang lebih sering membantu Inaq, karena hari pertama sekolahku di SMK belum dimulai.
“Alhamdulillah Nak, dagangan kita hari ini laris!” ujar Inaq sembari menatapku, keletihan di wajahnya terhapus oleh senyum lebarnya.
“Iya Alhamdulillah mak, Redi saja sampai berkali-kali isi termos,” jawabku seraya membalas senyuman Inaq.
Meskipun demikian, Inaq tetaplah seorang pekerja. Seluruh uang penjualan disetorkan kepada pemilik kios. Inaq menerima upah tergantung hasil penjualannya.
“Alhamdulillah,” berkali-kali Inaq melafadzkannya sembari mengangkat dagangan yang telah ia bereskan. Aku pun berjalan mengikuti Inaq, pulang menuju rumah mungilku yang tidak jauh dari Pantai.
Matahari kian tenggelam ditelan Sang Malam. Di sela-sela pohon kelapa dan atap bangunan, masih dapat kulihat bias jingga di ufuk barat. Alunan shalawat bersahutan pertanda adzan akan segera berkumandang. Aku dan Inaq bergegas menuju masjid. Kami membiasakan sholat berjamaah lima waktu di masjid. Selain lebih leluasa karena lebih luas dan megah, Inaq selalu mengingatkan bahwa shalat berjamaah di masjid itu lebih banyak pahalanya. Biasanya kami berangkat bertiga bersama Bapak, tetapi ia telah tiada. Angin malam yang selalu menerpa Bapak setiap kali bekerja, telah memperparah derita paru-parunya, ia wafat sebagai pahlawan keluarga. Dua bulan yang lalu, ajal menjemputnya di tengah lautan saat sedang mencari nafkah. Sebelum kejadian naas itu, kami sebenarnya sudah melarang Bapak untuk berlayar mencari ikan. Tetapi kebutuhan hidup yang semakin mendesak dan membengkak, memaksa bapak untuk mengangkat sauh lalu berjuang menerjang ombak di lautan lepas.
Malam pertama Ramadhan. Aku habiskan waktu di masjid hingga selesai shalat tarawih. Suasana masjid yang ramai, membuat waktu terasa cepat berlalu. Sebagaimana ibu-ibu lainnya yang tetap ditemani para mahromnya, Inaq terlihat masih ingin ditemani untuk tadarusan di masjid. Tetapi perutku yang keroncongan terus-menerus berteriak. Kalau kata temanku, si Adi, aku butuh P3K alias Pertolongan Pertama pada Kelaparan. Akhirnya, aku segera mengajak Inaq pulang ke rumah.
Liurku langsung basah tatkala makan malam tersedia di hadapan. Nasi, goreng tahu lengkap dengan sambal terasi terong aceh, telah tersaji di atas tikar.
“Jangan lupa berdo’a dulu, Nak!” Inaq selalu saja mengingatkanku.
“Iya Naq,” jawabku singkat. Maklum, aku sudah sangar alias sangat lapar.
Baru saja satu suap lidahku menikmati segarnya sambal buatan Inaq, tiba-tiba terdengar suara salam dari luar.
“Assalamu’alaikum!” suara berat seorang lelaki dari depan pintu rumahku.
“Wa’alaikumussalaam!” jawab kami hampir berbarengan.
Mendengar tamu lelaki yang datang, Inaq langsung menuju kamar mengambil kerudungnya. Sedangkan aku langsung berdiri untuk membuka pintu seraya meninggalkan santap malamku.
“Eh, Pak Kadir! Silahkan masuk Pak!” Sapaku kepada tamu yang datang. Aku sangat mengenalnya, ia adalah adalah pemilik perahu yang biasa dipakai Bapak melaut.
Setelah bersalaman, aku pun mengajaknya masuk dan duduk di atas tikar sembari menunggu Inaq.
“Mari makan malam Pak!” Ajak Inaq menyapanya. Inaq lalu duduk di atas tikar.
“Terima kasih Inaq Redi, saya sudah makan,” jawabnya dengan senyum mengembang.
“Em, ada apa nih pak?” Beberapa kali Inaq membetulkan kerudungnya. Pertanyaan itu seakan hanya untuk mencairkan suasana saja. Aku melihat ada kegelisahan di wajah Inaq.
“Ini Inaq Redi, saya datang ke sini terkait dengan apa yang saya bicarakan pada waktu minggu kemarin itu,” jawab Pak Kadir dengan suara pelan dan ragu.
“Saya sekarang sangat membutuhkannya, seminggu lagi istri saya mau melahirkan. Dokter bilang harus operasi cesar. Sebentar lagi juga lebaran, tanggungan THR saya banyak, Inaq Redi,” ucap Pak Kadir dengan suara memelas.
Aku mendengarkan obrolan mereka berdua dengan serius. Aku baru tahu kalau Inaq punya utang kepada Pak Kadir. Selama ini Inaq menyembunyikannya dariku. Begitulah Inaq, sering memendam masalah yang berat supaya pikiran anaknya tidak terbebani. Mungkin bagi orang lain utang Inaq tidaklah seberapa, hanya 3 juta. Namun bagi buruh dagang seperti kami, uang segitu cukup besar. Yang lebih mengagetkanku adalah utang tersebut adalah bekas mendiang Bapak berobat semasa sakitnya. Padahal sejatinya, seluruh utang Bapak ditanggung ahli warisnya, dan itulah aku. Karena Bapak tidak memiliki keluarga di Lombok, Bapak asli keturunan Makasar. Lautlah yang membawa Bapak sampai ke pulau ini. Karena itu, aku tak kenal seorang pun keluarga dari Bapak.
Sebenarnya aku tahu, Inaq pasti punya uang simpanan. Tetapi itu pasti akan sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan kami selama sebulan ke depan. Selama Ramadhan Inaq pasti libur berjualan. Tersebab pantai kami adalah pantai wisata rakyat, yang mayoritas pengunjungnya adalah kaum pribumi. Jadi, sudah dipastikan tidak akan ada musafir yang mendapat rukhsah tidak puasa, kemudian nyasar ke Pantai kami untuk sekedar membeli makanan. Kalaupun ada yang pergi ke pantai, hanyalah untuk jalan-jalan serta melihat pemandangan alam.
“Saya minta waktu lagi ya Pak Kadir!” pinta Inaq.
“Saya mohon sekali pengertiannya ya Inaq Redi, saya sangat membutuhkan uang tersebut,” jawab Pak Kadir tak mau kalah.
Aku tak tega melihat mereka berdua saling memelas dan meminta pengertian. Aku yang sedari tadi diam, mencoba angkat bicara.
“Inaq, bolehkah Redi ikut bicara?” aku menyela pembicaran mereka.
“Ga usah Nak, ini urusan orang tua!” cegah Inaq, seakan tahu apa yang ada di pikiranku.
“Inaq, ini juga terkait tanggung jawab Redi terhadap utang almarhum Bapak!” jelasku kepada Inaq.
Sejanak Inaq terdiam, tak lama kemudian.
“Silahkan Nak!” ucap Inaq.
“Pak Kadir, saya kebetulan ada tabungan..” ujarku.
Akan tetapi Inaq langsung memotongnya.
“Jangan Nak! itu kan tabungan sekolahmu, kamu kan membutuhkannya untuk membeli sepeda,” cegah Inaq.
“Ga apa-apa Inaq, Redi nanti bisa numpang ke Adi. Sekolah Adi dengan Redi kan ga terlalu jauh, nanti Redi sambung dengan jalan kaki,”jelasku.
Padahal aku tahu, menumpang Adi berangkat ke sekolah bukanlah solusi. Sebab Adi orangnya telatan, selama SMP saja ia termasuk siswa yang paling sering dihukum karena terlambat. Push up 20 kali di tengah lapangan, itulah olah raga paginya.
“InsyaAllah besok ya Pak Kadir, saya ambil dulu uangnya di Bank unit pasar. Setelah itu, saya langsung antarkan ke rumah Bapak.” pintaku kepada Pak Kadir.
“Duh, jadi ga enak nih!” senyum Pak Kadir menyeringai.
“Makasih sebelumnya ya Nak Redi,” Lanjut Pak Kadir padaku. Seraya menyodorkan tangannya, mengajakku bersalaman.
Aku pun menyambut tangannya. Sesaat kemudian Pak Kadir berdiri dan langsung pamit, dengan wajah yang jauh lebih cerah dibandingkan ketika ia datang bertamu tadi.
Malam itu pun aku lalui dengan penuh tanya. Pikiranku menerawang mencari celah di antara berbagai himpitan kebutuhan.
Untuk bersekolah di SMKN 1 Selong, aku memang sangat membutuhkan sepeda. Jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh, sekitar 8 km. Jika bersepeda, bisa ditempuh dalam 20 menit perjalanan. Aku tidak memilih nge-kost sebagaimana teman-temanku. Selain tidak cukup dana, aku tidak mau meninggalkan Inaq sendirian berdagang sedangkan aku hanya ongkang-ongkang. Apa tidak ada angkot? tentu ada, tetapi uang 8 rb perhari bagiku sangat berarti. Aku mesti menabung untuk dapat melanjutkan sekolahku hingga ke jenjang sarjana.
Aku jadi teringat pesan Inaq kemarin, apa aku nekad saja ya. Mengirimkan tulisan-tulisanku ke redaksi koran? Siapa tahu aku bisa punya penghasilan. Duh, gimana kalau nanti ditolak? pikirku. Tapi, apa lagi yang bisa kulakukan untuk bisa mengganti tabunganku? Bolak-balik pikiranku, berkutat di antara keberanian, ketakutan dan kebutuhan.
Akhirnya, bulat juga tekadku. Malam itu juga kukumpulkan semua tulisan-tulisanku. Kupilih-pilih dan kubagi-bagi berdasarkan tema dan jenis tulisannya. Cerpen dan puisi. Seingatku, ada dua koran ternama di Lombok. Supaya besok aku bisa langsung mengirimkannya via kantor pos Labuhan.
Melihat kelakuan putranya, Inaq tersenyum seraya menghampiriku.
“Nah gitu dong, Nak! kamu tak perlu ragu. Biarlah dunia yang menentukan, di mana karyamu kan diterima!” Ucap Inaq.
Serrr! serasa ada aliran semangat yang merasuk di dadaku. Kata-kata Inaq selalu saja sarat inspirasi. Padahal, Inaq juga jarang tuh nonton Pak Mario Teguh yang terkenal dengan Salam Supernya! Aku akui, Inaqku memang hebat. Kepercayaan diri Inaq benar-benar terlahir dari sebuah ketulusan, bukan seperti kepercayaan diriku yang baru tumbuh karena terdesak kebutuhan.
Pagi ini, hari pertama Ramadhan. Jarum pendek jam dinding kamarku menunjuk ke arah angka 9.
“Inaq, Redi pamit ke kantor Pos ya?” Ujarku.
“Iya, Nak! hati-hati dan sukses ya!”
“Ini Inaq sedang tanggung membersihkan kolang-kaling, pesanan Pak Johar!” Teriak Inaq dari arah dapur.Aku pun langsung menghampirinya.
“Hati-hati Nak! tangan Inaq basah, nanti tulisan-tulisanmu rusak terkena air!” pesan Inaq, seraya mengusap-usapkan tangannya ke bajunya.
“Nggak Inaq, tulisannya sudah Redi simpan di Tas,” jawabku. Aku menyalami dan mencium tangan kasar Inaq yang basah. Terasa olehku, Inaq mengecup ubun-ubunku seraya mengucapkan beberapa bait do’a yang terdengar pelan hingga ke telingaku.
Setelah pamit, aku pun langsung berangkat menuju kantor pos Labuhan.
Tidak sampai lima belas menit berjalan kaki aku telah sampai di Kantor Pos Labuhan. Berupa gedung tua dengan arsitektur gaya Belanda. Mungkin gedung ini dulunya bekas kantor para penjajah Belanda. Meskipun tua, gedung itu masih terlihat kokoh. Sekokoh tekadku saat itu.
Sesampainya di dalam, aku langsung membeli amplop besar. Tak lupa, aku pun mencatat alamat redaksi dari dua koran yang tersedia di ruang antrian. Bismillah! ucapku saat aku masukkan tulisan-tulisan karyaku ke dalam dua amplop yang berbeda. Tentunya, setelah kuberi pengantar terlebih dulu. Setelah amplopnya dilem, aku tuliskan alamat redaksinya, lalu kukirimkan dengan biaya perangko dalam kota.
“Mengirimkan apa Dik?” Tanya salah seorang petugas pos kepadaku. Lelaki muda itu terlihat ramah. Aku perhatikan sedari tadi, senyumnya selalu menghiasi wajahnya yang putih bersih, menyapa setiap pelanggan yang dilayaninya.
“Enggak pak” Jawabku dengan senyum tersimpul, PD-ku mulai luntur. Aku sengaja tak berterus terang, malu kalau ditanya macam-macam tentang isi amplopnya.
“Kok enggak? Kan ngirim ke redaksi koran, ngirim tulisan ya? Tulisan siapa?” Tanyanya lagi.
“Emmm, iya pak. Tulisan saya,” jawabku pelan, sambil tersipu.
“Oh, hebat dong! Kebetulan ada lomba membuat cerpen dan puisi di salah satu majalah remaja nasional, itu tuh posternya! Ujarnya, seraya menunjuk ke arah papan pengumuman yang tertempel di dinding kantor.
“Lumayan lho Dik, hadiah utamanya 15 juta rupiah. Kalau ga salah, ini hari terakhir pengiriman karyanya” jelasnya.
“Oh iya, makasih infonya pak,” Jawabku singkat.
Setelah perbincangan itu, aku langsung melihat pengumuman tersebut. Entah mengapa, seketika itu aku menjadi bersemangat. Namun sayangnya, semua karyaku sudah terkirimkan ke surat kabar. Hanya tinggal tersisa satu puisi empat bait yang terpampang di dinding kamar. Puisi tentang pantaiku, tempat di mana aku sering menyendiri ditemani secarik kertas dan sebatang pena.
Tak ada salahnya mencoba, pikirku. Mumpung uangku untuk membeli amplop dan perangko masih tersisa. Namun aku tetap harus ke Bank unit pasar dulu, memenuhi janjiku kepada Pak Kadir.
Sebelum dzuhur tiba, aku sudah kembali dari rumah pak Kadir. Aku langsung menuju kamarku, lalu mencari kertas-kertas bersih yang masih tersisa, kutulis ulang empat bait puisi yang tertempel di dinding kamarku. Puisi yang selama setahun tak berjudul itu, akhirnya berjudul juga. Kutulisi bagian atasnya, “Secercah Mentari Labuhan Haji”. Aku bergegas menuju kantor pos, supaya pada saat dzuhur tiba aku bisa shalat berjamaah di masjid.
“Semoga sukses ya, Dik!” Ucap Pak Petugas Pos yang ramah tadi. Baru kulihat tulisan di dada kanannya, tertulis Mustaqim.
“Aamiin, makasih ya Pak. Assalamu’alaikum!” pamitku kepadanya. Beliau pun langsung menjawab salamku.
Untaian shalawat sudah terdengar bersahutan dari berbagai arah, aku pun langsung bergegas menuju masjid. Selesai sholat dzuhur, aku panjatkan do’a untuk kedua orang tuaku, dan tentu tak terlewat juga untuk kesuksesan karya-karyaku. Sebenarnya aku belum percaya diri dengan hasil karyaku, tetapi ribuan harap juga bergelayut di dadaku.
Hari demi hari kulalui dengan harap harap cemas. Hari ke sepuluh dan ke sebelas Ramadhan, barulah ada amplop balasan dari dua koran yang berbeda, selang sehari aku menerimanya. Namun, tulisanku kembali utuh dengan selembar surat balasan. Intinya, kedua koran tersebut untuk sementara waktu belum bisa menerima kiriman puisi dan cerpen. Hilang sudah harapanku, dadaku terasa sesak dengan nafas yang kian berat. Jika tak ada Inaq yang selalu memotivasi, aku ingin berlari sejauh mungkin yang aku bisa. Lari dari kenyataan, karya-karyaku ditolak.
“Nak, penolakan itu laksana batu asahan. Menulislah kembali! karena hanya orang terbaring, diam dan pasrah yang bisa tenggelam di kubangan sedalam 15 cm,” nasihat Inaq kepadaku. Tapi, aku seolah sudah tak peduli lagi dengan motivasi.
Saat kembali datang amplop balasan yang ketiga. Aku sudah tak ada harap, aku langsung masuk ke kamar. Aku tak sanggup menerima tulisanku kembali ke kamar ini. Inaqlah yang menghampiri Pak Pos untuk menerima suratnya. Inaq jugalah yang membuka amplop tersebut.
“Red! Redi! Alhamdulillah Redi! Alhamdulillah!” teriak Inaq.
Aku langsung terkaget, teriakan Inaq yang penuh kegirangan langsung menghentikan ratap hatiku.
“Baca Red! Baca! Puisimu memenangkan lomba!” Seru Inaq dengan wajah berseri-seri, seraya menyodorkan surat balasan dan mengguncang-guncangkan badanku yang tambun.
Sungguh, aku di antara percaya dan tidak. Bagaikan mimpi di siang hari. Dua tumpuk karyaku dikembalikan oleh dua koran lokal. Tetapi, secarik puisi “Secercah Mentari Labuhan Haji” mendapatkan apresiasi sebagai juara harapan 2, atau puisi ke-5 terbaik dari seluruh peserta se-Indonesia.
“Alhamdulillah!” Aku langsung bersujud memanjatkan syukur kepada Sang Maha Pemberi Rizqi. Aku sangat bahagia.
Sebelum masuk sekolah, aku bisa membeli sepeda dan perlengkapan sekolah dari uang hadiah sebanyak 4 juta rupiah. Dan ada yang jauh lebih berharga dari itu, sejak itulah tumbuh rasa percaya diriku untuk terus berkarya serta mempublikasikannya. Semua tak terlepas dari Inaq hebat yang selalu menginspirasi.
Glossarrium :
Inaq : Ibu
Rukhshah : Keringanan dalam pelaksanaan kewajiban
Terong Aceh : Tomat
(Ary H. 1/08/2016)

Komentar
Posting Komentar