Ilmu pengetahuan dan teknologi memang ada untuk memudahkan hidup manusia. Dari sana muncul berbagai penemuan yang luar biasa. Dari mulai sarana dan teknologi transportasi, konstruksi, pertanian, biologi, kimia hingga kesehatan dsb.
Hanya saja, kemajuan iptek tak ada artinya jika tak dibarengi dengan kemajuan pola pikir dan pola sikap manusia. Selama pola pikir dan pola sikap belum berubah, kemajuan teknologi seringkali tak terpakai atau bahkan diabaikan dan dianggap aneh.
Hanya saja, kemajuan iptek tak ada artinya jika tak dibarengi dengan kemajuan pola pikir dan pola sikap manusia. Selama pola pikir dan pola sikap belum berubah, kemajuan teknologi seringkali tak terpakai atau bahkan diabaikan dan dianggap aneh.
Kita ingat dalam sejarah kegelapan Eropa yang pada saat bersamaan adalah zaman keemasan Islam. Islam yang maju di bidang Iptek, yang memang terdorong oleh fiqih Thoharoh dalam agamanya, telah mengenalkan manfaat air, konstruksi MCK, pembersihan kotoran dsb. Ketika Iptek itu masuk ke wilayah Eropa, mereka tak langsung menerima, mengapa? Karena konon di Eropa ada keyakinan bahwa air itu tempat tinggalnya makhluk halus yang jahat. Sehingga bisa berbahaya kalau manusia sering berinteraksi dengan air. Apa yang bermasalah di sini? Bukan ipteknya, tapi pola pikir dan pola sikap yang belum mau berubah.
Begitu pula ketika Galileo dan Galilei terdorong keliling dunia lalu kembali ke tempat semula, lalu mereka menyampaikan bahwa bumi itu bulat. Masyarakat Eropa saat itu tak mau menerimanya, mungkin hingga saat ini juga ada. Mengapa? Bukan karena Ipteknya, namun karena pola pikir dan pola sikap manusia yang belum mau berubah.
Teringat pula sebuah kisah guru saya belasan tahun yang lalu. Saat seorang ibu lebih memilih kompor minyak dibandingkan kompor gas. Mengapa? Karena di dalam benak ibu tersebut terpola bahwa kompor minyak itu lebih aman dan kompor gas itu berbahaya. Namun setelah mencoba, kemudian menyaksikan sendiri proses masak yang lebih cepat dan perkakas dapur yang lebih bersih, pemikirannya pun berubah. Apakah Iptek yang merubahnya? Bukan, tetapi dirinya sendiri yang mengubah pola pikir dan pola sikapnya. Karena memang pola pikir dan pola sikap itu tak bisa dipaksakan, ia adalah pilihan masing-masing insan.
Ada juga pengalaman pribadi beberapa pekan yang lalu. Ketika motor satu-satunya yang saya miliki seringkali mogok. Hampir setiap pagi, mogok. Atau sore setiap habis terparkir lama di lokasi kerjaan. Lama sekali untuk hidup. Tetapi jika bisa hidup, seterusnya tak mogok lagi.
Lokasi bengkel resmi, yang tentunya lebih paham secara iptek dengan motor brandnya, sangat dekat. Tetapi di dalam benak ini terpikir, begitu pula kata orang, bahwa bengkel resmi itu mahal. Nanti disuruh ganti ini dan itu, akhirnya pasti jatuh biaya yang sangat mahal. apalagi katanya, kemungkinan besar injeksi-nya yang bermasalah.
Akhirnya, saya pun tidak memilih bengkel resmi. Dengan harapan bisa lebih murah dan tak perlu ada yang diganti. Alhamdulillah sekitar 3 kali masuk bengkel, motor sembuh, tapi penyakitnya kambuh lagi. Hingga suatu saat, motornya benar-benar mogok dan tak mau hidup.
Saat kepepet seperti itu, akhirnya terpaksa pasang badan. Ya sudah bengkel resmi saja, pikir saya. Setelah menelpon ke bengkel resmi terdekat, saya pun membawa motor saya ke sana. Setelah seharian diservice dan bisa hidup kembali, ternyata tak perlu ada yang diganti dan hanya service saja. Berapa biayanya? Hanya 50rb-an dan bergaransi seminggu.
Mulus? Ternyata tidak. Besok paginya mogok kembali. Ya terpaksa dibawa lagi ke bengkel resmi kembali. Petugasnya yang ramah menjelaskan bahwa harus ada proses diagnosa yang cukup butuh waktu berhari-hari, harus santai katanya. Ya sudahlah, daripada berpenyakit terus akhirnya motor diopname hingga 4 hari. Pasrah, berapa pun biayanya.
Mulus? Ternyata tidak. Besok paginya mogok kembali. Ya terpaksa dibawa lagi ke bengkel resmi kembali. Petugasnya yang ramah menjelaskan bahwa harus ada proses diagnosa yang cukup butuh waktu berhari-hari, harus santai katanya. Ya sudahlah, daripada berpenyakit terus akhirnya motor diopname hingga 4 hari. Pasrah, berapa pun biayanya.
Hari keempat pas ditelpon pihak bengkel, degdegan, wah pasti mahal. Beberapa lembar ratusan ribu pun dimasukkan ke dompet. InsyaAllah mudah-mudahan cukup.
Sesampainya di bengkel, pihak bengkel menjelaskan bahwa setelah diobservasi hingga hari ke 2, penyakit motor tetap ada. Hinga bongkar lagi dan service lagi. Setelah hari ke 3 barulah ketemu penyakitnya lalu diobservasi lagi pada hari ke 4, alhamdulillah penyakitnya hilang. Senang sekali mendengarnya.
Tinggal satu hal, berapa biayanya? Saya tanya sembari degdegan. Apa jawaban pihak bengkelnya? Ternyata gratis dengan alasan masih garansi. Dan masalahnya hanya ada suku cadang yang sedikit bergeser dari lokasi seharusnya, katanya. Alhamdulillah, ternyata masalahnya bukan di kemajuan alat serta skill yang ada di bengkel resmi yang bermasalah. Tapi ada di pola pikir dan pola sikap saya yang tak mau berubah. Mungkin bisa jadi itu juga terbentuk dari pengalaman serta informasi negatif yang sering saya terima tentang bengkel resmi. Padahal kenyataannya, tak seseram yang dibayangkan.
Saat ini, kita dihadapkan pada kemajuan Iptek di berbagai bidang kehidupan. Tapi apakah menyelesaikan permasalahan dunia? Ternyata belum, mengapa demikian? Saya melihat, bisa jadi rekan-rekan berbeda, karena ada pola pikir dan pola sikap yang belum berubah dalam diri manusia.
Apakah itu? Bisa jadi perilaku sebagian manusia yang mengeksploitasi Iptek untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya telah menanam persepsi negatif di dalam benak kita. Karena fakta yang tak bisa dipungkiri, berbagai perusakan alam, lingkungan dsb, seringkali melibatkan Iptek di dalamnya. Sangat wajar jika kemajuan Iptek itu dipandang sebagai sesuatu yang menyeramkan.
Hal tersebut sebenarnya tidak menjadi masalah, karena perubahan pola pikir dan pola sikap itu tak bisa dipaksakan. Hal tersebut merupakan pilihan setiap insan.
Namun ada yang lebih utama dari itu. Yakni perubahan pola pikir dan pola sikap yang menjadikan Iptek sebagai alat eksploitasi semata. Atau sebaliknya, pola pikir dan pola sikap yang menjadikan kemajuan Iptek sebagai musuh bersama.
Ini lebih dari sekedar Iptek, karena apa? Pola pikir dan pola sikap itu yang bisa membuat Iptek itu berguna atau berbahaya.
Namun ada yang lebih utama dari itu. Yakni perubahan pola pikir dan pola sikap yang menjadikan Iptek sebagai alat eksploitasi semata. Atau sebaliknya, pola pikir dan pola sikap yang menjadikan kemajuan Iptek sebagai musuh bersama.
Ini lebih dari sekedar Iptek, karena apa? Pola pikir dan pola sikap itu yang bisa membuat Iptek itu berguna atau berbahaya.
Bagi seorang muslim yang meyakini agamanya sebagai agama yang benar. Semestinya terbentuk keyakinan bahwa ketika pola pikir dan pola sikap itu dijauhkan dari agama, yakinlah kalau kemajuan Iptek hanya akan menjadi bencana. Tetapi kalau kemajuan Pola pikir dan pola sikap itu disandarkan pada agama, yakinlah bahwa kemajuan Iptek ini akan menjadi barokah.
Rasulullah Saw pernah bersabda, terkait hadits penyerbukan kurma, "Antum a'lamu bi amri dun-yakum" (kalian lebih tahu urusan dunia kalian). Artinya, dalam urusan Iptek manusia diberikan kebebasan untuk melakukan penelitian/percobaan untuk menemukan alat atau cara yang lebih efektif dan efisien. Namun mesti diingat, ketika kemajuan Iptek sudah didapat, mau dipakai apa? Tentunya pola pikir dan pola sikap manusia yang menentukan. Apakah ia akan merusak atau bermanfaat.
Dan bukan hanya itu saja, ketika ada manusia yang menjadikan Iptek sebagai alat untuk merusak. Kita tak bisa menyalahkan juga, jika ada sebagian manusia lainnya yang anti terhadap kemajuan Iptek karena melihat fakta manusia yang merusak dunia dengan Ipteknya.
Jadi, yang paling diperlukan saat ini bukanlah sekedar penggunaan dan kemajuan Iptek. Tetapi perubahan pola pikir dan pola sikap manusia. Kita perlu mengembalikan penggunaan Iptek pada relnya, yakni diatur dengan agama. Supaya kemajuan Iptek tidak dipakai untuk merusak pun tidak terbentuk trauma manusia terhadap Iptek. Wallohu a'lamu bishshowwaab. (At.)

Komentar
Posting Komentar