Langsung ke konten utama

Bahaya Terselubung di Balik "Analogi Pembuat Jam"

Adalah William Paley (filusuf sekaligus ahli teologi dari Inggris pada abad 18 M). Dalam bukunya yang berjudul Natural Theology or Evidences of the Existence and Attributes of the Deity, menyampaikan suatu pemikiran argumentasi teologis yang kemudian dikenal dengan istilah Watchmaker Analogy (Analogi Pembuat Jam).

Ia menyampaikan gagasannya dimulai dengan sebuah cerita bahwa seandainya kita berjalan-jalan di hutan kemudian menemukan sebuah jam. Kemudian kita perhatikan bagaimana teratur dan sistematisnya jam tersebut. Apalagi jika kita perhatikan hingga akurasi gerakan mesin dan geriginya, tentu kita tidak akan berpikir bahwa jam itu jadi dengan sendirinya.

Keteraturan sistem serta akurasi mesin pada jam tentu akan menyampaikan kita pada kesimpulan akhir, pasti jam itu ada pembuat (pabrik)-nya. 

Apalagi jika kita berpikir tentang alam semesta. Keteraturan dan keakuratan sistem alam semesta tentu meniscayakan bahwa alam semesta ini pasti ada Penciptanya. Namun pemikiran William Paley tidak sampai hanya di sini. Analoginya masih berlanjut dengan mengumpamakan pembuat jam itu dengan Pencipta (Tuhan) itu sendiri.

Oleh karena itulah, ia pun berkesimpulan bahwa sebagaimana pembuat jam yang setelah membuat jam dengan sangat akurat dan sistemik, ia lalu membiarkan produknya berdetak dan berjalan sendiri. Begitu pula dengan Tuhan. Maka kehendak Tuhan bisa dipahami dengan prinsip utilitarianisme. Yang mana manusia, yang telah diberi fasilitas oleh Tuhan, bisa menentukan cara terbaiknya untuk hidup dengan hasil yang mampu meningkatkan kebahagiaannya.

Sehingga keyakinan terhadap Pencipta itu hanya sampai pada keyakinan akan adanya Pencipta semata. Tetapi terkait dengan aturan dalam kehidupan, maka manusia dibiarkan menentukan jalannya sendiri.

Pemikiran seperti ini terlihat seperti benar. Tetapi jelas nyata terselubung kebathilannya, yakni penolakan terhadap adanya aturan Pencipta dalam kehidupan manusia. 

Padahal jika kita pakai analoginya sendiri. Kemudian kita tanyakan. Seorang Pembuat jam saja pasti punya tujuan ketika membuat produknya (jam), apatah lagi Tuhan Yang Maha Mengetahui, tidak mungkin menciptakan alam semesta dan manusia itu hanya sekedar main-main semata (tidak punya tujuan).

Allah Swt berfirman : 

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَٰكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main saja (tanpa ada maksud), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" 
(TQS. Al Mukminun [23]: 115)

Pemikiran William Paley kental dengan pondasi dasar pemikiran sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Sehingga pada ujungnya agama hanya akan diletakkan pada keyakinan yang bersifat privat semata dan tidak perlu berperan dalam urusan berkehidupan. Karena menurutnya, Tuhan Maha Pemurah, sehingga ia membebaskan manusia untuk mencari kebahagiaannya sendiri dalam kehidupannya.

Pondasi dasar pemikiran sekulerisme seperti ini jelas bertentangan secara asasi dengan Islam. Karena dalam pandangan Aqidah Islam, Allah Swt menciptakan manusia sekaligus dengan seperangkat petunjuk untuk dijalankan oleh manusia. Sebagaimana firman Allah Swt :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)." (TQS. Al Baqoroh [2] : 185)

Jelas sekali bahwa Allah Swt menurunkan Al Quran sebagai petunjuk atau jalan hidup bagi manusia. Sehingga sangat tidak masuk akal jika Allah Swt sebagai Pencipta (Al Kholiq) hanya menciptakan manusia dan alam semesta sekedar main-main semata tanpa tujuan. Justru, Allah Swt menciptakan manusia untuk beribadah (menghamba) kepada-Nya, sekaligus Dia pun menurunkan seperangkat aturan disertai berbagai penjelasannya untuk dilaksanakan oleh manusia. 

Sehingga, kehidupan dunia ini bukan hal yang terpisah dengan sebelum kehidupan dunia juga dengan setelah kehidupan dunia. Hubungan dengan sebelum kehidupan dunia adalah adanya proses penciptaan serta pemberian aturan untuk dilaksanakan oleh manusia dalam kehidupan dunia. Dan hubungan dengan setelah kehidupan dunia adalah manusia akan dimintai pertanggungjawaban (dihisab) atas ketaatannya terhadap aturan yang Allah berikan. Jika taat maka ia akan meraih keridloan Allah Swt, adapun jika maksiat maka ia akan memperoleh murka Allah Swt. 

Karena itulah, sangatlah berbahaya jika pemikiran seperti Watchmaker Analogy ini masuk ke benak kaum muslimin. Mungkin argumen teologi terkait keyakinan akan adanya Pencipta alam semesta seolah ada manfaatnya. Tetapi bahaya terselubungnya terletak pada analogi berikutnya yang justru akan menggiring manusia agar berpaling dari menjadikan Al Quran sebagai panduan dalam kehidupannya.

Bukankah Allah Swt berfirman : 

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْٓ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا . قَالَ كَذٰلِكَ اَتَتْكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيْتَهَاۚ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسٰى . وَكَذٰلِكَ نَجْزِيْ مَنْ اَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْۢ بِاٰيٰتِ رَبِّهٖۗ وَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَشَدُّ وَاَبْقٰى 

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.

Dia berkata, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?"

Dia (Allah) berfirman, "Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan."

Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh, azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal." (TQS. Thoha [20] : 124-127)

Wa na'udzubillahi min syarri dzalika. Aamiin.

Komentar

Populer di Blog Ini

Agar Cinta Menulis

Mencintai pekerjaan adalah sesuatu hal yang sangat penting, begitulah pandangan keumuman kita. Bahkan, keahlian seseorang seringkali dihubungkan dengan kecintaannya pada suatu pekerjaan. Mencintai terlebih dulu pekerjaannya, barulah ada garansi untuk menjadi ahli karenanya. Dunia menulis pun tak luput dari pandangan tersebut. Untuk menjadi penulis, biasanya kita menghubungkannya dengan kecintaan seseorang terhadap aktifitas menulis. Misal, ketika seseorang suka menulis sedari kecil, disimpulkanlah bahwa ia berbakat menjadi seorang penulis. Benarkah mesti demikian adanya? Penulis tidak membantah adanya kesukaan seseorang terhadap menulis sedari kecil. Mungkin memang benar demikian adanya. Penulis pun tak menampik bahwa mencintai menulis adalah sesuatu yang penting. Karena, cinta menulis akan membuat kita enjoy bersamanya. Namun, penulis kurang setuju jika cinta menulis merupakan bakat bawaan sedari lahir. Sehingga, ia tak bisa disemai dan ditumbuhkan. Ada dua hal pokok yang b...

Mengawal Gerakan Literasi

sumber gambar : literasi[dot]jabarprov[dot]go[dot]id. Geliat aktifitas literasi dan kepenulisan generasi muslim belakangan ini memang begitu menggairahkan. Hal ini seolah memberikan banyak harapan dan angin segar kebangkitan. Apalagi dengan berbagai kemudahan fasilitas berkarya dan memublikasikannya. Geliat ini bukan sekedar isapan jempol. Karena sebuah tulisan, konon bisa memberikan pengaruh yang lebih besar dan lebih lama dibandingkan sebuah ucapan. Sehingga sangatlah besar ekspektasi terhadapnya; geliat kepenulisan generasi muslim akan menghantarkan pada geliat kebangkitan Islam.    Sebagaimana aktifitas membaca, sebenarnya aktifitas menulis tidaklah akan menghantarkan pada kebangkitan masyarakat. Karena pada hakikatnya, membaca dan menulis hanyalah bagian dari sarana penyerapan dan penyampaian informasi. Informasi tersebutlah yang akan disimpan sebagai pemikiran di dalam otak kemudian pandangan hidup (aqidah) yang dimiliki setiap insan akan menentukan apakah pe...

Langkah Praktis Menulis Via Blog Mulai dari Nol

Rekan-rekan semua, berikut akan saya paparkan bagaimana tips praktis membuat blog dengan blogger. Mari kita ikuti langkah-langkah berikut : Bagi yang belum punya email, masuk ke  www.gmail.com Pilih  Buat akun   Isi formulir pada tampilan berikut dan ikuti langkah sampai konfirmasi bahwa email sudah aktif.   Jika email sudah aktif, silahkan masuk ke  www.blogger.com Klik  Tambahkan Akun  pada tampilan berikut : Setelah muncul tampilan di bawah ini,  Masukkan email rekan-rekan semua, sebagai contoh saya masukkan email saya ary.smknkadipaten@gmail.com, klik berikutnya, lalu isikan password email rekan-rekan semua. Pilih Buat Profil Google+ lalu ikuti langkah selanjutnya (saya sarankan memakai identitas sesuai KTP, karena kita sedang membuat kartu nama di dunia maya). Sampai muncul seperti di bawah ini atau yang semisalnya (mungkin tampilan berbeda-beda tergantung lengkapnya langkah yang diambil). Lalu, pilih  Lanjutk...

Total Tayangan