Banyak kisah yang menceritakan tentang bagaimana sikap Umar bin Al Khaththab r.a. dan Abu Bakar Ashshiddiq r.a. pada saat Rasulullah SAW wafat. Namun kisah yang menceritakan tentang sikap sahabat yang lain mengenai hal tersebut tidaklah banyak. Salah satu kisah yang pernah dibaca oleh penulis adalah kisah Bilal bin Rabah. Betapa kisahnya telah membuat penulis terharu. Saking mengesankan kisahnya, pernah pada suatu Jumat, kumandang muazin membuat penulis menerawang jauh membayangkan azan Bilal bin Rabah. Tak terasa, air mata pun mengalir dari sudut kedua mata ini.
Berikut inilah kisahnya :
“Matahari memanggang madinah, di Senin siang, menjelang Dzuhur saat Bilal bergegas mengumandangkan azan. Inilah kali pertama ia harus menyerukan panggilan shalat tanpa kehadiran Rasulullah SAW, yang telah wafat pada pagi hari. Kesedihan begitu jelas tampak di wajah Bilal. Kulitnya yang hitam legam tak bisa menyembunyikan rasa dukanya yang mendalam. Namun, ia harus tegar. Ia harus tetap mengumandangkan azan, meski Rasulullah SAW telah tiada.
Bilal berdiri tegak. Tangannya diangkat menutup telinganya. Sesaat ia terdiam. Mulutnya terkatup rapat. Bilal berusaha menenangkan diri. Sekuat tenaga ia berusaha melupakan kematian Nabi SAW. Perlahan mulutnya mulai dibuka. Kedua bibirnya bergerak. Azan berkumandang. Suara Bilal masih terdengar lantang.
Allahu Akbar…Allahu Akbar….Asyahadu anla Ilaha Illa Allah… Asyahadu anla Ilaha Illa Allah…
Ketika sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah…, lehernya terasa tercekik. Lidahnya kelu. Mulutnya terasa berat digerakkan. Kalimat itu begitu sulit diucapkan. Bilal berupaya agar kalimat itu keluar dari mulutnya, tetapi tetap ia tidak bisa. Di matanya terbayang Rasulullah SAW yang terbujur kaku di pojok kamar ‘Aisyah. Bayangan itu seolah menari-nari di pelupuk matanya. Sosok tubuh tersebut berada tak jauh dari tempat ia mengumandangkan azan.
Susah payah Bilal menggerakkan mulutnya hingga kalimat itu terucap juga, tetapi suaranya tak lagi lantang. Suara Bilal tertahan. Serak. Tersekat. Bilal tak kuasa membendung air matanya. Seperti rintik hujan yang kian lama bertambah deras, begitu pula air mata Bilal.
Kaum muslim di penjuru Madinah mendengar seruan itu. Mereka seolah merasakan apa yang dialami Bilal. Mereka tenggelam dalam kesyahduan. Inilah kali pertama mereka mendengar Bilal mengumandangkan azan tanpa ada Rasulullah SAW.
Setelah peristiwa itu, Bilal tak lagi azan. Ia pergi ke Syam selama beberapa tahun lamanya. Sejak itu, kaum muslim di Madinah tak lagi mendengar kumandang azan Bilal. Ia pergi mengikuti jejak orang yang dicintainya; Rasulullah SAW. Azan Bilal baru kembali terdengar saat ‘Umar bin Khaththab diserahi kunci Palestina setelah berhasil menaklukannya. Kaum muslim terharu begitu mendengar suara Bilal. Mereka teringat dengan masa-masa ketika Rasulullah SAW masih hidup. (The Great Story of Muhammad SAW, Ahmad Hatta dkk.)
Subhanallah. Allahumma shalli ‘ala muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Kalimat inilah mungkin yang pantas kita ucapkan setelah membaca penggalan kisah di atas. Betapa besar cinta para sahabat radliyallahu ‘anhum kepada Nabi Muhammad SAW. Cinta yang terlahir bukan karena naluri semata, sebagaimana cinta kita terhadap keluarga, anak dan sebagainya. Namun cinta itu adalah cinta yang terlahir dari mafhum (pemahaman) syar’i . Cinta tersebut dalam rangka memenuhi seruan Allah SWT, yang artinya :
“Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya.” Dan Allah tidak member petunjuk kepada orang-orang fasik.” (TQS. At-Taubah[9]:24)
Juga sabda Rasulullah SAW, yang artinya :
“Tidak beriman seorang hamba hingga aku lebih dicintai daripada keluarganya, hartanya dan seluruh manusia yang lainnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Itulah beberapa nash yang mendorong cinta para sahabat kepada Rasulullah SAW. Cinta mereka kepada beliau SAW bukanlah cinta yang terlahir dari pemahaman yang bathil, sebagaimana cinta para penganut komunis terhadap Marx dan Lenin. Cinta mereka adalah cinta yang terlahir dari keimanan yang benar.
Keimanan adalah hal utama yang menumbuhkan cinta kaum muslimin kepada Rasulullah SAW, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Tsumamah bin Tsa’al kepada Rasulullah SAW :
“Ya Muhammad, demi Allah, dulu tidak ada tidak ada satu wajah pun di muka bumi ini yang paling aku benci daripada wajahmu. Tapi akhirnya, wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada satu agama pun yang paling aku benci daripada agamamu, tetapi sekarang agamamu menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada suatu negeri pun yang paling aku benci daripada negerimu, tapi sekarang negerimu adalah negeri yang paling aku cintai.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Itulah pengakuan Tsumamah. Kata-katanya telah menegaskan bahwa keimananlah yang menumbuhkan cintanya kepada Rasulullah, Islam dan negeri Islam. Cinta yang tidak ditutupi dengan kepura-puraan, tidak akan berkurang karena celaan dan hinaan, dan tidak berubah karena pujian dan keridhaan manusia. Cinta itu tidak hanya mereka katakan tapi dibuktikan dengan banyak pengorbanan, salah satunya adalah apa yang diceritakan oleh Anas r.a.:
Ketika perang Uhud kaum muslim berlarian meninggalkan Nabi SAW. Abu thalhah sedang berada di depan Nabi SAW, melindungi beliau dengan perisainya. Abu Thalhah adalah seorang pemanah yang sangat cepat lemparannya. Pada saat itu ia mampu menangkis dua atau tiga busur panah. Kemudian ada seorang lelaki yang lewat. Ia membawa setumpuk tombak kemudian berkata : “Aku akan menebarkannya untuk Abu Thalhah”. Kemudian Nabi SAW beralih ke pinggir melihat orang-orang. Abu Thalhah berkata : “Ya Nabiyullah, demi bapak dan ibuku, engkau jangan minggir, nanti panah orang-orang akan mengenaimu. Biarkan aku yang berkorban untukmu.” (Mutttafaqun ‘Alaihi).
Saat ini Rasulullah SAW telah tiada. Namun bukan berarti cinta kepadanya menjadi tiada pula. Dalam kitab Min Muqowwimatin Nafisiyatil Islamiyyah dituliskan, Al Azhari berkata “Arti cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati dan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya.” Inilah yang utama dari cinta kepada Rasulullah SAW. Cinta terucap dalam shalawat, seraya sadar akan konsekuensi ittiba’ secara totalitas terhadap syariahnya.
Walhasil, cinta kita kepada Rasulullah SAW tergambar dari sikap kita dalam menaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Marilah kita introspeksi diri, sebesar apakah cintaku dan cintamu kepada Rasulullah SAW?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Labels:
Beranda Opini dan Nasihat
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar