Kaum Yahudi dan Nashrani selalu berpaling dari mentauhidkan Allah Swt. Bahkan tatkala mereka hidup di jaman Rasulullah Saw, pada saat wahyu masih turun. Mereka pun mendustakan Rasulullah. Padahal mereka berhadapan langsung dengan Sang Utusan Allah tersebut. Tak hentinya mereka mendustakan Allah dan Rasul-Nya. Kaum Yahudi berkata bahwa Uzair anak Allah, sedangkan Kaum Nashrani berkata bahwa Isa Al Masih sebagai anak Allah. (lih. Q.S. At-Taubah[9]: 30). Sebuah kedustaan yang nyata, yang sangat bertentangan dengan ajaran tauhid.
Mereka menasabkan keturunan mereka kepada Nabi Ibrahim a.s., Ismail a.s., Ishaq a.s. maupun Ya’qub a.s. Oleh karena itu, Allah Swt mengingatkan mereka atas semua pengingkaran mereka. Allah Swt berfirman :
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Artinya :
“Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.”
(TQS. Al Baqarah[2] : 133).
Imam Al Qurthubi menjelaskan bahwa yang diseru sebagai “kalian” dalam ayat ini adalah Yahudi dan Nashrani. Mereka bernasab kepada Nabi Ibrahim tetapi tidak pernah berwasiat sebagaimana kakek buyutnya. Bahkan, mereka tetap dalam keyakinan Yahudi dan Nashrani. Allah Swt menentang perkataan dan dusta mereka. Allah mencela mereka : Apakah kalian menyaksikan Ya’qub dan mengetahui apa yang diwasiatkannya? kemudian kalian menyerukannya berdasar pada ilmu? Yakni, kalian tidak menyaksikannya, bahkan kalian berpaling (darinya). Aku-lah yang menyaksikan pendahulu kalian (Ya’qub). (Al Jaami’ li Ahkaam al Qur-aan).
Adapun Imam Thabari mengutip Abu Ja’far yang mengatakan : Apakah kalian -wahai bangsa Yahudi dan Nashrani- yang mendustakan Nabi Muhammad, hadir dan menyaksikan saat maut akan menjemput Ya’qub? Jika kalian tidak hadir di sana, maka janganlah kalian menyerukan berbagai kebathilan terhadap para Nabi dan utusan-Ku. Bahkan, kalian mengklaim mereka termasuk golongan Yahudi dan Nashrani. Sesungguhnya Aku-lah yang mengutus kekasih-Ku Ibrahim –serta anaknya Ishaq, Ismail dan keturunannya- dengan kelurusan Tauhid dan berserah diri (kepada-Ku). Dengan itu pula mereka berwasiat kepada anak keturunannya. Berdasar keyakinan itu pula, mereka membuat perjanjian dengan anak keturunannya. Seandainya kalian menyaksikan mereka. (Jamii’u al-Bayaan li Ta’wiil al Qur-aan).
Wasiat penting yang ditanyakan Ya’qub kepada anak keturunannya tidak lain adalah “ma ta’buduna min ba’di?” (“Apakah yang akan kamu sembah sepeninggalku?”). Sebuah pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang memberikan keleluasaan jawaban kepada orang yang ditanya. Imam Asy-Syaukani menegaskan bahwa dikatakan “ma ta’buduna” karena yang disembah selain Allah, pada umumnya adalah benda-benda mati seperti berhala, api, matahari dan bintang. (Fathu al-Qodiir)
Pertanyaan yang mengandung makna yang dalam. Karena penggunaan lafadz “ma” mengandung makna tersendiri. Syaikh Atha Ibnu Khalil Abu ar-Rasytah menjelaskan bahwa jawaban yang diberikan anak keturunan Ya’qub, yakni penyembahan kepada Allah semata, merupakan jawaban yang tidak berdasar pada taqlid atau arahan dari ayah mereka. Akan tetapi jawaban tersebut terlahir dari penerimaan yang rasional dan iman yang benar akan hal tersebut.
Pertanyaan “ma ta’buduna min ba’di?” merupakan pertanyaan bagi mereka tentang sesembahan mereka, pertanyaan yang mendasar. (At Taisiir fi Ushuul at Tafsiir).
Allah Swt mengkabarkan bahwa jawaban anak keturunan Ya’qub a.s. adalah jawaban yang teguh di atas ajaran tauhid. Yakni, penegasan bahwa kami ikhlash beribadah kepada Allah, mentauhidkan-Nya, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, serta tidak menjadikan selain-Nya sebagai sesembahan.
Dengan menelaah ayat ini, tertolaklah semua klaim dan kebohongan yang ditimpakan Yahudi dan Nashrani kepada para Nabi dan Rasul Allah. Tertolak pula semua ide bathil yang menyatakan tiga agama satu tuhan. Terkuak pula kesesatan ide sinkretisme yang mencampuradukkan semua agama dan beranggapan bahwa perbedaan agama Islam dan agama samawi lainnya hanyalah perbedaan cara semata.
Ajaran yang mengatakan bahwa pangkal ketiga agama tersebut intinya adalah ajaran Nabi Ibrahim merupakan kebathilan yang nyata.
Meskipun yang diseru langsung di dalam ayat ini adalah kaum Yahudi dan Nashrani. Bukan berarti kita tidak perlu mengambil ibrah darinya. Bahkan sebaliknya, kita mesti mengambil pendidikan dan pengajaran darinya. Sebuah pelajaran tentang perkara penting dan utama dalam pendidikan anak-anak kita.
Ketika seseorang sakit keras, sebuah sakit yang biasanya mengantarkan pada kematian. Perkataannya tentu tidaklah akan jauh dari apa yang selalu ada di benaknya. Jika selama sehatnya yang ada di benaknya adalah harta, tentu harta itulah yang akan ia tanyakan dan katakan. Oleh karena itu, ketika seorang Nabi Ya’qub a.s. bertanya “ma ta’buduna min ba’di?” tentu pengajaran tauhid itulah yang selalu ada di benaknya. Lalu, bagaimanakah dengan kita?
Di era yang serba materialistis ini, tidak jarang para orang tua dihadapkan pada kekhawatiran akan masa depan anak-anaknya. Namun sayangnya, kekhawatiran itu seringkali bukanlah tentang “ma ta’buduna min ba’di?” Bahkan lebih cenderung pada “ma ta’kuluna min ba’di?” (Apa yang kalian akan makan sepeninggalku?). Atau mungkin “ma taf’aluna min ba’di?” (“Apa pekerjaan kalian sepeninggalku?”), pertanyaan tentang profesi dan pekerjaannya. Sehingga, tidak jarang para orang tua memporsir anak-anaknya untuk belajar ini dan itu, menguasai keterampilan ini dan itu. Tetapi penekanan akan Tauhid, dilupakan. Tidak sedikit dari kita yang jarang sekali atau bahkan tak pernah peduli akan pertanyaan, “ma ta’buduna min ba’di?” Karena seolah-olah semua hal tentang anak-anak kita hanyalah tentang materi dan harta untuk mereka. Na’udzu billahi min dzalik.
Menyiapkan masa depan terbaik untuk anak-anak kita memang tanggung jawab setiap orang tua. Akan tetapi, akhirat tetaplah jauh lebih baik dibandingkan dunia. Bahkan, dunia pun diraih untuk kepentingan akhirat, bukan sebaliknya.
"Ma ta’buduna min ba’di?" merupakan pertanyaan tentang siapa yang paling berhak disembah dan ditaati. Mendidik anak keturunan kita tentang kepada siapakah mereka mesti menghamba. Menghamba kepada Allah merupakan misi utama penciptaan jin dan manusia.
Sudahkah kita berwasiat kepada anak-anak kita, wasiat yang mampu menjawab pertanyaan “ma ta’buduna min ba’di?” dengan jawaban yang penuh keimanan dan kesadaran. Karena "Setiap Orang Ada Masanya dan Setiap Masa Ada Orangnya." Dan masa kita pun akan segera berlalu dan akan berlanjut dengan masa anak cucu kita. Wallohu a'lamu bishshowwab.
Komentar
Posting Komentar