Hanya saja, kepekaan atas kezaliman itu berbeda dengan kepekaan panca indera. Seperti kepekaan merasakan pahit dan manis.
Kepekaan atas kezaliman dibangun di atas kepekaan berpikir. Karena meskipun panca indera menyaksikan, bahkan merasakan kezaliman yang sangat luar biasa, ketika menurut pemikirannya hal tersebut bukanlah kezaliman, maka manusia tidak akan merasakan kezaliman tersebut. Apalagi bereaksi atasnya.
Aktivitas berpikir harus melibatkan 4 komponen,
1. Fakta / Objek
2. Indera
3. Otak yg sehat
4. Informasi sebelumnya (yg tersimpan di dalam otak)
Oleh karena itu, harus ada "Informasi sebelumnya" yang benar terhadap yang namanya kezaliman. Sehingga secara pemikiran, seorang manusia bisa memutuskan bahwa dirinya sedang zalim atau dizalimi lalu ada gairah atau hasrat untuk berubah atau mengubahnya.
Misal, seorang manusia yang memiliki informasi di dalam otaknya bahwa hidup itu adalah bekerja untuk makan hari itu dan makan hari itu untuk bekerja esok harinya. Maka seperti itulah ia akan hidup sampai ia mati. Meskipun secara kasat mata, hidupnya tak berbeda dengan kuda atau sapi penarik gerobak. Ia tak akan merasakan kezaliman.
Berbeda lagi ketika seseorang yang sangat kaya, ia akan memiliki informasi dalam benaknya kalau hidup itu adalah santai-santai, menyantap hidangan hingga melampiaskan hasrat seksual dan tak perlu melakukan apapun karena semua kebutuhannya sudah tersedia. Ia akan memahami begitulah hidup. Meski secara kasat mata, tak berbeda dengan kucing atau anjing peliharaan. Ia pun tak akan merasakan kezaliman.
Begitu pula akan berbeda ketika seorang manusia yang memahami bahwa hidup itu untuk taat dan menghamba kepada Allah, maka seluruh hidupnya akan ia gunakan untuk taat dan menghamba kepada Allah Swt.
Ketika dalam hidupnya ia dilarang taat dan dijauhkan dari menghamba kepada Allah. Ia akan merasakan kezaliman yang luar biasa.
Seperti itulah pemahaman (berupa informasi yang dibenarkan oleh benak) akan mempengaruhi kepekaan manusia atas kezaliman serta menentukan sikap atasnya. Tentunya juga akan mempengaruhi kepekaan umat atas kezaliman.
Hal ini pula digambarkan di dalam Al Quran mengenai perbedaan yang nyata antara orang-orang munafik dan orang-orang mukmin.
Allah Swt berfirman
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ
"Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf." (TQS. At Taubah: 67).
Sedangkan mengenai orang-orang beriman, Allah Swt berfirman
وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar." (TQS. At Taubah: 71)
Jadi, kapan umat akan merasakan kezaliman? Ketika umat ini memiliki kepekaan berpikir yang dibangun di atas pemahaman yang benar. Dan tugas para pengemban dakwah adalah membangun pemahaman yang benar tersebut di tengah-tengah umat.
Seperti Luqman Al Hakim yang mengajarkan kepada anaknya,
وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (TQS. Luqman: 13)
Pengajaran luqman ini merupakan suplay informasi ke dalam benak anaknya, supaya di otak anaknya tersimpan informasi bahwa syirik (menyekutukan Allah) merupakan kezaliman yang sangat besar.
Imam As Sa’di menjelaskan bahwa keberadaan syirik sebagai kezaliman yang sangat besar adalah karena sesungguhnya tidak ada yang lebih keji dan lebih buruk daripada orang yang menyamakan makhluk yang tercipta dari tanah dengan (Allah) pemilik segala perkara; menyamakan manusia yang lemah lagi fakir dari segala sisinya, dengan Rabb Yang Maha Sempurna lagi Maha Kaya dari segala sisi-Nya; dan menyamakan orang yang tidak bisa memberikan karunia sebesar biji sawi pun dengan tuhan.
Dan apakah ada orang yang lebih besar kezalimannya daripada orang yang diciptakan Allah supaya beribadah kepada-Nya dan mengesankan-Nya, lalu ia pergi dengan jiwanya yang mulia itu, kemudian menempatkannya pada martabat yang paling rendah dan menjadikannya sebagai penyembah sesuatu yang sama sekali tidak menandingi apa-apa. Oleh karena itu, dia benar-benar telah menzalimi dirinya dengan kezaliman yang sangat besar, tegasnya.
Adakah kezaliman yang sangat besar itu terjadi saat ini? Tentu saja jawaban yang kita berikan pun akan menentukan sejauh mana kepekaan berpikir yang kita miliki. Wallahu a’lamu bishshawwab. (At)
.png)
Komentar
Posting Komentar