Langsung ke konten utama

Mendamba Sosok Pemimpin Rabbani

Manusia merupakan makhluk sosial yang meniscayakan kehidupan sosial dan bermasyarakat. Sehingga keberadaan pemimpin dan yang dipimpin merupakan suatu hal yang menjadi bagian dari tabiat kehidupan manusia. Oleh karena itu, sangat wajar jika keberadaan sosok pemimpin atau siapa yang memimpin menjadi fokus perhatian masyarakat. Bahkan tak jarang, kesejahteraan atau kesengsaraan suatu negara seringkali dihubungkan dengan sosok pemimpin negaranya.

Oleh karena itu, penting kiranya kita memahami sosok pemimpin ideal yang dimaksud di dalam Al Quran. Serta bagaimanakah sosok ideal tersebut bisa ditemukan di zaman ini?

Allah Swt berfirman,

 Ù…َا Ùƒَانَ Ù„ِبَØ´َرٍ Ø£َÙ†ْ ÙŠُؤْتِÙŠَÙ‡ُ اللَّÙ‡ُ الْÙƒِتَابَ ÙˆَالْØ­ُÙƒْÙ…َ ÙˆَالنُّبُÙˆَّØ©َ Ø«ُÙ…َّ ÙŠَÙ‚ُولَ Ù„ِلنَّاسِ Ùƒُونُوا عِبَادًا Ù„ِÙŠ Ù…ِÙ†ْ دُونِ اللَّÙ‡ِ ÙˆَÙ„َÙƒِÙ†ْ Ùƒُونُوا رَبَّانِÙŠِّينَ بِÙ…َا ÙƒُÙ†ْتُÙ…ْ تُعَÙ„ِّÙ…ُونَ الْÙƒِتَابَ ÙˆَبِÙ…َا ÙƒُÙ†ْتُÙ…ْ تَدْرُسُونَ

“Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembah ku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (TQS. Ali Imran: 79)

Ketika para pendeta Yahudi dan Nasrani Najran diseru oleh Rasulullah Saw untuk masuk Islam, salah seorang Nasrani Najran bertanya kepada Rasulullah Saw,

“Hai Muhammad! Apakah engkau menginginkan supaya kami menyembahmu sebagaimana kaum Nasrani menyembah Isa bin Maryam?”
“Aku berlindung kepada Allah dari menyembah selain Allah serta memerintahkan untuk menyembah selain Allah! Tidaklah untuk itu Allah telah mengutusku dan tidak pula memerintahkan hal tersebut kepadaku,”
jawab Rasulullah Saw.Kemudian Allah Swt menurunkan ayat ini bersama satu ayat sesudahnya (QS. Ali Imran: 80, pen.).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tidaklah layak bagi seseorang yang telah Allah berikan Al Kitab, hikmah dan nubuwwah untuk menyeru manusia, “Jadikanlah aku sebagai sesembahan selain Allah!” yakni saingan bagi Allah. Apabila hal tersebut tidak layak dilakukan oleh seorang Nabi atau Rasul, apatah lagi manusia selain beliau Saw.

Oleh karena itu, Imam Hasan Al Bashri rahimahullahu ta’ala menyampaikan bahwa seorang mukmin tidak boleh mengajak orang lain agar menyembahnya. Beliau menjelaskan bahwa yang  perilakunya demikian adalah orang ahli kitab. Mereka (ahli kitab) telah mempertuhankan para pendeta dan rahib mereka, sebagaimana firman Allah Swt :

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (TQS. At Taubah: 31)

Dalam Al Musnad, Imam Tirmidzi menyampaikan bahwasanya Adi Bin Hatim berkata,  “Wahai Rasulullah, tidaklah mereka (Ahli Kitab) menyembah para rahib dan pendetanya.” Rasulullah Saw bersabda, ”Akan tetapi para pendeta dan rahib itu menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, kemudian ahli kitab menaatinya. Itulah penyembahan mereka terhadap pendeta dan rahib mereka.”

Kebodohan para pendeta, rahib serta penghulu kesesatan dicela dan dicaci dalam ayat ini. Jelas berbeda dengan para Rasul dan para Ulama yang mengikutinya, mereka hanya menyeru kepada apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan untuk dilaksanakan. Serta mereka hanya melarang kepada apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan untuk dijauhi.

Karena itu “hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani”, yakni orang-orang yang faqih, ahli ibadah dan ahli taqwa.

Menurut Ibnu Mas’ud r.a., orang-orang rabbani adalah pemimpin yang ‘alim. Sedangkan menurut Abdullah bin Jubair adalah pemimpin yang bertaqwa. Adapun Ibnu Zaid menyampaikan bahwa rabbani adalah para penguasa.

Hasan menjelaskan bahwa orang-orang rabbani adalah orang yang mampu menyatukan antara ilmu agama dan politik. Atau sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Ubaidah, bahwa orang-orang rabbani adalah orang ‘alim yang memahami halal dan haram, perintah Allah dan larangan-Nya serta mengetahui berita yang telah menimpa dan akan dialami oleh umat Islam.

Oleh karena itu, Mujahid berkata bahwa rabbani adalah orang yang memiliki ilmu dan pemahaman. Ia memiliki pengetahuan tentang politik, pengaturan dan pemenuhan berbagai urusan rakyat, serta bisa membawa kemaslahatan dalam urusan dunia dan akhirat.

Imam Thabari menutup tafsir ayat ini dengan kalimat,
“Wahai sekalian manusia! Para pemimpin mereka! Yang mengurus agama dan dunia mereka! Jadilah kalian orang-orang yang rabbani yang mengajarkan manusia dengan Al Quran serta yang terkandung di dalamnya tentang halal dan haram, fardlu dan mandub serta seluruh perkara agama dengan membaca dan mempelajari Al Quran.”

Memahami apa yang disampaikan oleh para ulama mengenai orang-orang rabbani, sungguh kaum muslim dunia saat ini membutuhkan pemimpin rabbani. Pemimpin yang ‘alim dan faqih yang merujuk kepada Al Quran dan Assunnah dalam mengurus masyarakat. Pemimpin yang menjadikan aktivitas dan pandangan politiknya sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jernih dan luas pandangannya, semata karena ia selalu membaca dan mempelajari Al Quran. Sehingga apa yang halal di dalam Al Quran menjadi halal juga dalam pandangannya serta apa yang haram dalam Al Quran pun menjadi haram dalam pandangannya.

Hanya saja mungkinkah pemimpin rabbani akan terlahir dalam rahim politik yang sekuler? Yang jangankan menerapkan hukum-hukum Al Quran, bahkan seluruh aturan kehidupan pun harus dibangun di atas asas selain agama. Jangan sampai bagaikan pungguk yang merindukan bulan. Wallahu a'lamu bishshawwaab. (At.)

 


Komentar

Populer di Blog Ini

Agar Cinta Menulis

Mencintai pekerjaan adalah sesuatu hal yang sangat penting, begitulah pandangan keumuman kita. Bahkan, keahlian seseorang seringkali dihubungkan dengan kecintaannya pada suatu pekerjaan. Mencintai terlebih dulu pekerjaannya, barulah ada garansi untuk menjadi ahli karenanya. Dunia menulis pun tak luput dari pandangan tersebut. Untuk menjadi penulis, biasanya kita menghubungkannya dengan kecintaan seseorang terhadap aktifitas menulis. Misal, ketika seseorang suka menulis sedari kecil, disimpulkanlah bahwa ia berbakat menjadi seorang penulis. Benarkah mesti demikian adanya? Penulis tidak membantah adanya kesukaan seseorang terhadap menulis sedari kecil. Mungkin memang benar demikian adanya. Penulis pun tak menampik bahwa mencintai menulis adalah sesuatu yang penting. Karena, cinta menulis akan membuat kita enjoy bersamanya. Namun, penulis kurang setuju jika cinta menulis merupakan bakat bawaan sedari lahir. Sehingga, ia tak bisa disemai dan ditumbuhkan. Ada dua hal pokok yang b...

Mengawal Gerakan Literasi

sumber gambar : literasi[dot]jabarprov[dot]go[dot]id. Geliat aktifitas literasi dan kepenulisan generasi muslim belakangan ini memang begitu menggairahkan. Hal ini seolah memberikan banyak harapan dan angin segar kebangkitan. Apalagi dengan berbagai kemudahan fasilitas berkarya dan memublikasikannya. Geliat ini bukan sekedar isapan jempol. Karena sebuah tulisan, konon bisa memberikan pengaruh yang lebih besar dan lebih lama dibandingkan sebuah ucapan. Sehingga sangatlah besar ekspektasi terhadapnya; geliat kepenulisan generasi muslim akan menghantarkan pada geliat kebangkitan Islam.    Sebagaimana aktifitas membaca, sebenarnya aktifitas menulis tidaklah akan menghantarkan pada kebangkitan masyarakat. Karena pada hakikatnya, membaca dan menulis hanyalah bagian dari sarana penyerapan dan penyampaian informasi. Informasi tersebutlah yang akan disimpan sebagai pemikiran di dalam otak kemudian pandangan hidup (aqidah) yang dimiliki setiap insan akan menentukan apakah pe...

Langkah Praktis Menulis Via Blog Mulai dari Nol

Rekan-rekan semua, berikut akan saya paparkan bagaimana tips praktis membuat blog dengan blogger. Mari kita ikuti langkah-langkah berikut : Bagi yang belum punya email, masuk ke  www.gmail.com Pilih  Buat akun   Isi formulir pada tampilan berikut dan ikuti langkah sampai konfirmasi bahwa email sudah aktif.   Jika email sudah aktif, silahkan masuk ke  www.blogger.com Klik  Tambahkan Akun  pada tampilan berikut : Setelah muncul tampilan di bawah ini,  Masukkan email rekan-rekan semua, sebagai contoh saya masukkan email saya ary.smknkadipaten@gmail.com, klik berikutnya, lalu isikan password email rekan-rekan semua. Pilih Buat Profil Google+ lalu ikuti langkah selanjutnya (saya sarankan memakai identitas sesuai KTP, karena kita sedang membuat kartu nama di dunia maya). Sampai muncul seperti di bawah ini atau yang semisalnya (mungkin tampilan berbeda-beda tergantung lengkapnya langkah yang diambil). Lalu, pilih  Lanjutk...

Total Tayangan