1) Metode Berpikir Rasional (Aqliyyah)
2) Metode Berpikir Ilmiah (Eksperimental)
Para cendekiawan Barat saat ini hanya mengakui metode berpikir no 2 saja. Bahkan sangat 'mendewakannya'. Sehingga mereka beranggapan bahwa segala sesuatu yang tidak ilmiah berarti salah. Anggapan tersebut merupakan kekeliruan yang sangat fatal.
Karena pada faktanya, dan itu juga yang ada di dalam Islam, kedua metode berpikir ini digunakan. Saya ingin memulai penjelasan dengan beberapa ilustrasi fakta atau kejadian di sekitar kita.
Apa nama benda yg setiap hari diminum dan digunakan mandi oleh manusia?
Saya yakin 100%, semua menjawab "air".
Lalu bagaimana kalau ada orang yg menjawab "minyak"?
Benar atau salah?
Saya pun yakin, para pembaca akan menjawab "Salaaaah!"
Dari mana kita bisa memutuskan bahwa jawaban "minyak" adalah salah?
Inilah kebenaran yang dicapai dengan metode rasional. Kita bisa menentukan benar atau salah berdasarkan informasi yang kita terima. Mengapa kita membenarkan jawaban "Air" karena kita diberi informasi atau diajari kalau benda yang sering kita minum dan digunakan mandi setiap hari adalah "Air". Sedari kecil orang tua kita, guru kita, tetangga kita semua orang mengajari kita bahwa itu namanya air. Ini rasional dan benar, meskipun jawaban itu tidak kita uji melalui metode ilmiah.
Berpikir rasional meniscayakan adanya informasi sebelumnya. Karena ada informasi sebelumnya yang tersimpan di dalam otak tentang "Air", yang itu berasal dari orang-orang yang mengajari kita. Maka kita yakin 100% bahwa benda yang sering kita minum dan kita gunakan mandi adalah "Air" bukan "minyak". Bisa dipahami smp sini?
Oleh karena itu, kebenaran informasi sebelumnya memegang peranan yang sangat penting dalam metode berpikir rasional.
Misal, kalau ada anak yang sedari lahir diasingkan. Kemudian dia dibiarkan hidup sendiri. Lalu disodorkan 2 benda kepadanya yakni "air" dan "minyak". Kemudian dia diajari secara terbalik. Benda "Air" dikatakan "minyak" sedangkan "minyak" dikatakan "air". Biarkan ia hidup sendiri tanpa berinteraksi dengan dunia luar sampai dewasa. Apa jawaban dia kalau ditanya, benda apa yang sering ia minum setiap hari? Yakin 100% dia akan menjawab "Minyak" meski benda yang ia minum adalah air. Mengapa? Karena dia disuplay informasi yang salah. Dari mana kita bisa katakan salah! Sekali lagi, berdasarkan metode berpikir rasional.
Masih lanjut ya.
Ada pernyataan bahwa manusia yang sudah menjadi tulang belulang dan hancur, nanti akan dibangkitkan dan dihidupkan kembali.
A. Benar
B. Salah
(A atau B)?
Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan metode berpikir rasional, bukan dengan metode berpikir ilmiah. Mengapa demikian? karena ia sangat tergantung pada informasi sebelumnya.
Seorang musyrik yang bernama Ubay bin Khalaf pernah menemui Nabi Muhammad Saw. Ia membawa tulang belulang yang sudah hancur di tangannya. Dengan nada mengejek, dia menaburkan bubuk tulang belulang itu ke udara tepat di depan wajah Rasulullah Saw, seraya bertanya, "Hai, Muhammad! Apakah kamu yakin bahwa (tulang belulang yang hancur) ini akan dihidupkan kembali oleh Allah?"
Mungkin di benaknya. Sejak kapan mata kepalanya menyaksikan ada tulang belulang hancur bisa menyatu kembali dan hidup kembali? Mau diperlakukan seperti apapun, ketika manusia mati lalu menjadi tulang belulang, maka ia akan hancur dan kembali menjadi tanah.
Apa jawaban Rasulullah Saw?
Beliau Saw menjawab, "Benar! Allah akan membinasakanmu, lalu menghidupkanmu kembali, mengumpulkanmu di padang Mahsyar kemudian akan menjerumuskanmu ke neraka Jahannam!"
Jelas! metode berpikir ilmiah tidak akan sampai pada jawaban ini. Hal ini hanya bisa dijawab dengan metode berpikir rasional dan dengan jawaban yang rasional. Mengapa? karena bersumber pada informasi yang terbukti secara akal (rasional) sebagai sumber informasi yang valid 100% tidak mungkin salah, apa itu? Al Quran.
Allah Swt berfirman dalam QS. Yasin: 78-79
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِىَ خَلْقَهُۥ ۖ قَالَ مَن يُحْىِ ٱلْعِظَٰمَ وَهِىَ رَمِيمٌ
قُلْ يُحْيِيهَا ٱلَّذِىٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ
"Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh? Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk." (TQS. Yasin:78-79)
Kebenaran Al Quran sebagai kalamullah merupakan sesuatu yang bersifat rasional (sesuai akal). Sehingga semua informasi yang bersumber darinya merupakan informasi yang pasti benar dan rasional. Mengapa penulis berani mengatakan demikian? Karena mukjizat Al Quran sampai saat ini masih berlaku dan akan terus berlaku hingga akhir zaman. Sehingga mukjizat Al Quran akan menundukkan setiap jiwa yang menolak kebenaran Al Quran. Karena definisi mukjizat adalah,
المعجزة هي أمر خارق للعادة مقرون بالتحدي مع عدم المعارضة
"Mukjizat adalah perkara yang luar biasa disertai tantangan dan tiadanya perlawanan."
Jadi, mudah saja. Jika ada orang yang tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Al Quran dan Rasulullah Saw. Silahkan buat satu surat saja yang semisal dengan Al Quran. Karena semenjak Al Quran diturunkan pada 14 abad yang silam, tantangan ini terus berlaku hingga kini dan sampai akhir zaman. Dan sampai saat ini, tak ada seorang pun yang mampu membuat satu surat saja semisal Al Quran.
Bahkan AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan yang sangat canggih sekalipun, yang dibangga-banggakan karena sangat membantu kreatifitas manusia, tidak akan mampu membuat satu surat saja semisal Al Quran. Yakin.
Inilah urgensi berpikir rasional. Bahkan sebenarnya, metode berpikir ilmiah yang dibangga-banggakan pun tidak akan bisa terlaksana tanpa adanya kebenaran yang dihasilkan metode berpikir rasional.
Mari kita kembali ke bagian awal tulisan.
Jika kita akan menguji apa yang terjadi jika "Air" dan "Minyak" dengan volume yang sama dipanaskan dengan api. Mana yang akan lebih dahulu menguap dan habis? Jawaban ini bisa dicek dengan menggunakan metode berpikir ilmiah. Bisa kita uji dengan menuangkan "Air" dan "Minyak" dengan volume yang sama pada 2 bejana yang berbeda, kemudian kita panaskan bejana tersebut di atas api dengan derajat panas yang sama. Inilah metode berpikir ilmiah. Setelah percobaan dilakukan, kita akan mengetahui mana yang lebih dahulu menguap, "Air" ataukah "Minyak".
Namun, perlu kita sadari bahwa percobaan itu bisa dilakukan karena kita bisa membedakan antara "Air" dan "Minyak". Dan tentu saja, ini kita dapatkan dari metode berpikir rasional.
Wallahu a'lamu bishshawwaab. (At)

Komentar
Posting Komentar