ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (An-Nahl (125).
Ayat mulia ini menjelaskan berbagai uslub (cara) dakwah Islam, dan telah membatasi adanya tiga uslub dalam berdakwah.
Cara Pertama: Dakwah Bil Hikmah.
Banyak orang yang menyangka bahwa hikmah adalah pelan-pelan, hati-hati, lembut dan nyaman. Padahal makna tersebut tidak pernah diberikan pada kata hikmah. Hikmah pada mulanya diambil dari keputusan dan memutuskan ketetapan. Berarti ia merupakan sumber penetapan, yaitu penguasaan dalam ilmu dan amal, pendapat yang benar dan tepat padanya, serta apa-apa yang mencegah seseorang dari kebodohan.
Kata hikmah dalam berbagai bentuknya mengarah pada makna penguasaan, ketepatan, dan kebenaran pendapat. Oleh karena itu, orang-orang Arab memakai makna asal ini serta makna musytarak lainnya dengan kandungan makna ini. Konteks kalimatnya akan menentukan makna yang diinginkan. Sehingga kata ini digunakan dalam konteks ma'rifatullah, mendalami Al-Qur'an dan As Sunnah serta mempelajari ilmu, berbagai nasihat, fiqih dan sebagainya.
وَٱذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِى بُيُوتِكُنَّ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ وَٱلْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا
"Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui." (TQS. Al Ahzab: 34)
Ayat ini dan berbagai makna hikmah yang berarti menempatkan perkara-perkara sesuai batasannya, yaitu pada posisi yang tepat. Kata hikmah pun mengandung makna bukti yang logis, penjelasan yang rasional dan perkataan yang menentramkan.
Hikmah di sini dan pada ayat Al Quran yang membatasi uslub dakwah Islam (An Nahl 125) mencakup dua makna tersebut secara bersamaan. Berikut penjelasannya :
Ketentuan Dakwah Islam
Dakwah Islam mengharuskan para pengembannya memenuhi dua perkara :
Pertama :
Dakwah Islam harus menempatkan berbagai perkara sesuai batasannya, yakni pada posisi yang tepat. Hendaknya pengemban dakwah menyeru manusia sesuai kemampuan berpikir mereka, sebagai realisasi dari sabda Rasulullah Saw, "aku diperintahkan untuk menyeru manusia sesuai dengan kemampuan berpikir mereka."
Selain itu pula, setiap kedudukan memiliki ucapan. Oleh karena itu, pengemban dakwah harus memperhatikan kedudukan objek dakwahnya. Jika tidak maka ia gagal dalam dakwahnya. Allah melarangnya. Pengemban dakwah wajib memilih waktu yang tepat dan susunan kalimat yang sesuai, supaya dipahami oleh mad'u (objek dakwah)-nya serta berpengaruh pada diri pendengarnya.
Sebagian mereka telah mendefinisikan hikmah. Ia berkata: Hikmah itu adalah kamu berkata sesuai yang orang inginkan, pada waktu dan tentang tema yang ia inginkan! Hikmah itu tidak dikuasai oleh setiap orang. Tidak setiap orang pula mampu dengan baik menggunakan dan melaksanakannya. Hikmah itu pemberian dari Allah Swt. Dia menganugerahkannya kepada siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya.
Setiap orang bisa mengupayakannya dengan bermajlis kepada para ahli hikmah dan para ulama. Allah Swt berfirman :
يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." (TQS. Al Baqarah: 269)
Kedua :
Dakwah Islam mengharuskan pengembannya untuk mengedepankan bukti yang logis, penjelasan yang rasional serta perkataan yang menentramkan dalam dakwahnya. Karena hal ini akan berpengaruh pada jiwa-jiwa manusia. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah Swt:
ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ
"Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (TQS. Fushshilat: 34)
Dikarenakan manusia tidak akan mampu mengunci akalnya di hadapan bukti yang pasti dan pemikiran yang kuat serta kokoh. Dengan demikian, maka dakwah dengan argumentasi dan bukti akan berpengaruh kepada para pemikir maupun selainnya. Dakwah yang akan menakutkan bagi orang-orang kafir sebagaimana menakutkan orang-orang sesat yang menyesatkan. Karena ia akan membongkar kepalsuan kebathilan, menyinari kebenaran, menjadi api yang membakar kerusakan dan menjadi cahaya yang menunjukkan pada kebaikan, jalan petunjuk dan pedoman.
Contoh Dakwah Bil Hikmah, Penggunaan Bukti yang Rasional dan Argumentasi yang Logis dalam Ayat Al Quran
Kita akan menemukan bahwa Al Quran telah datang dengan bukti yang pasti dan argumentasi yang logis. Al Quran menyeru orang berakal dengan ucapan yang menentramkan. Dengan demikian maka wajib berdakwah dengan hikmah, yakni dengan argumetasi yang logis dan bukti yang rasional serta menentramkan. Ini merupakan metode Al Quran, berikut contohnya:
Pertama. Ketika Al Quran menjelaskan masalah hari kebangkitan dan penghisaban setelah kematian, yang ini diingkari oleh orang kafir. Al Quran menjelaskan secara bertahap bagi mereka supaya terindera dan masuk akal. Allah Swt berfirman,
"Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka." (TQS. An Nisa: 63)
Tahukah apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw kepada Ubay bin Khalaf?! Beliau Saw berkata: "Benar! Allah akan mematikan kamu, lalu menghidupkanmu, lalu mengumpulkanmu di Mahsyar, kemudian menjerumuskanmu ke Jahannam!"
Ibnu Abi Hatim berkata: Dari Sa'id bin Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata: "Bahwa Al 'Ash bin Wail membawa sebuah tulang dari sungai. Kemudian dia meremukkan tulang tersebut dengan tangannya. Kemudian ia berkata kepada Rasulullah Saw, 'Apakah Allah akan menghidupkan tulang yang hancur ini?' Rasulullah Saw menjawab, 'Benar! Allah akan mematikanmu, lalu menghidupkanmu, kemudian menjerumuskanmu ke dalam Jahannam!'
Ibnu Abbas r.a. berkata, "dan telah turun beberapa ayat di akhir surat Yasin. Sama saja ayat ini turun terkait Ubay bin Khalaf atau Al 'Ash bin Wail atau keduanya. Ayat tersebut berlaku umum untuk siapa saja yang mengingkari hari Kebangkitan."
Al Quran telah merekam momentum dakwah bil hikmah yang mencakup penempatan perkara pada kedudukannya yang tepat, mengutamakan argumentasi yang logis, bukti yang rasional dan perkataan yang menentramkan.
Allah Swt berfirman,
# وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِىَ خَلْقَهُۥ ۖ قَالَ مَن يُحْىِ ٱلْعِظَٰمَ وَهِىَ رَمِيمٌ
قُلْ يُحْيِيهَا ٱلَّذِىٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ
"Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh? Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk." (TQS. Yasin: 78-79)

Komentar
Posting Komentar