Orang yang mencintai seseorang tak akan pernah mau ketika orang yang dicintainya berkeluh kesah. Orang yang mencintai seseorang tak akan pernah tega ketika orang yang dicintainya bersedih hati.
Sebagai seorang manusia. Rasulullah Saw pun pernah curhat mengenai kondisi umatnya. Beliau Saw mengadu kepada Allah Swt. Sebagaimana yang tertera dalam firman Allah Swt.
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي ٱتَّخَذُوا۟ هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ مَهۡجُورٗا
"Dan berkatalah Rasul, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an ini sesuatu yang tidak dihiraukan.'" (TQS. Al-Furqan: 30)
Ayat ini turun secara umum sebagai respon terhadap sikap kaum kafir Quraisy yang menolak Al-Qur'an dan dakwah Rasulullah SAW. Mereka bukan hanya mengabaikan ajaran Al-Qur'an, tetapi juga berusaha menghalangi orang lain untuk mendengarkannya dan berusaha untuk menentang dakwah Rasulullah.
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini adalah keluhan Rasulullah SAW kepada Allah SWT tentang kaumnya yang menolak dan mengabaikan Al-Qur'an.
Dalam ayat tersebut, Rasulullah mengadukan bahwa kaumnya telah menjadikan Al-Qur'an sebagai sesuatu yang ditinggalkan (mahjuran). Ada beberapa makna dari kata "mahjuran" dalam konteks ayat ini. Di antaranya:
1. Tidak mendengar atau memperhatikan Al-Qur'an. Mereka mendengar Al-Qur'an, namun menolak untuk memperhatikan atau mengambil pelajaran darinya.
2. Tidak membacanya dengan benar. Mereka mungkin membaca Al-Qur'an, tetapi tidak memahami atau mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.
3. Tidak mengamalkannya. Mereka tidak mengikuti ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.
4. Menolaknya secara terang-terangan. Bahkan ada yang menolak kebenaran Al-Qur'an, dengan menganggapnya sebagai sihir, syair, atau kebohongan.
Al-Qurthubi menegaskan bahwa keluhan ini menunjukkan betapa sedihnya Rasulullah atas penolakan kaumnya terhadap wahyu yang dibawanya. Ini juga menjadi ancaman bagi mereka yang mengabaikan Al-Qur'an, baik dengan tidak mempelajarinya, tidak mengamalkannya, atau bahkan merendahkannya.
Adapun menurut Imam Ibnu Katsir bahwa ayat ini menjelaskan keluhan Rasulullah SAW kepada Allah SWT tentang bagaimana kaumnya mengabaikan Al-Qur'an. Ibnu Katsir menekankan bahwa kata "mahjuran" mengandung makna luas, termasuk:
1. Tidak mendengar atau menghiraukan Al-Qur'an. Sebagian besar dari mereka menolak untuk mendengarkan Al-Qur'an yang dibacakan oleh Rasulullah.
2. Mengabaikan ajaran Al-Qur'an. Mereka tidak mengikuti perintah-perintah Al-Qur'an dan tidak menjadikannya sebagai pedoman hidup.
3. Mengatakan bahwa Al-Qur'an hanyalah sebuah kebohongan atau syair. Ini adalah penolakan terhadap kebenaran Al-Qur'an sebagai wahyu dari Allah SWT.
Ibnu Katsir juga menyebut bahwa sebagian ahli tafsir mengaitkan ayat ini dengan ayat-ayat lain yang menjelaskan bagaimana kaum kafir berusaha untuk menghindari dan menghalangi orang lain mendengarkan Al-Qur'an, seperti dalam Surah Fussilat ayat 26, di mana kaum kafir Mekkah berkata: "Janganlah kamu mendengarkan Al-Qur'an ini, dan buatlah kegaduhan terhadapnya." Dengan ini, mereka menunjukkan sikap menentang dan tidak mau menerima kebenaran Al-Qur'an.
Selayaknya, curhatan Rasulullah Saw ini menjadi peringatan keras bagi kita yang mengaku sangat mencintai beliau Saw. Karena perilaku "mahjuran" yang dilakukan oleh umatnya terhadap Al Quran secara garis besarnya adalah :
1. Menolak kebenaran Al Quran; melecehkan dan menghinakannya. Termasuk menganggap bahwa perintah dan larangan Al Quran sudah ketinggalan zaman.
2. Tidak mau membaca, mempelajari, memahami dan mengamalkan Al Quran. Termasuk tidak mau berhukum kepada Al Quran.
Jika kita benar-benar mencintai Rasululllah Saw maka tak ada pilihan selain kita harus membenarkan Al Quran serta mengamalkannya. Wallahu al Hadi ila Sabili ar Rosyadi.

Komentar
Posting Komentar