Jabir bin Abdullah r.a. berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah kalian berdoa buruk untuk diri kalian, anak-anak kalian dan harta kalian.Jangan sampai kalian menetapi suatu waktu yang diminta sesuatu saat itu lalu Allah mengabulkan doa kalian.” (HR. Muslim)
Beberapa Faidah Hadits:
Larangan mendoakan keburukan untuk anak.
Doa itu akan diijabah jika terpenuhi asbab-asbab terijabahnya doa, meskipun itu doa keburukan untuk anak.
Pendidik itu harus memiliki kesabaran dalam mendidik anak serta bersabar atasnya.
Pendidik itu harus bisa menahan diri di saat marah. Ia harus tetap berperilaku sesuai tuntunan syariah ketika berhadapan dengan peserta didiknya.
Anak-anak lebih berpeluang melakukan kesalahan dibandingkan orang dewasa. Oleh karena itulah, ia harus dibimbing ketika melakukan kesalahan.
Imam Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala menjelaskan ketika menuliskan firman Allah Swt,
وَلَوْ يُعَجِّلُ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ ٱلشَّرَّ ٱسْتِعْجَالَهُم بِٱلْخَيْرِ لَقُضِىَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ
“Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka.” (TQS. Yunus: 11)
Allah SWT memberitahukan tentang sifat penyantun dan kelemahlembutan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya. Dia tidak mengabulkan bagi mereka jika mereka berdoa tentang keburukan untuk diri sendiri, harta dan anak-anak mereka, ketika lelah dan marah. Allah SWT mengetahui bahwa mereka tidak bermaksud melakukan itu, oleh karena itu, maka Dia tidak mengabulkan doa mereka, sebagai kelembutan dan rahmat. Sebagaimana Dia mengabulkan jika mereka mendoakan kebaikan, keberkahan, dan kesuburan untuk diri, harta, dan anak-anak mereka.
Di antara doa yang diijabah oleh Allah Swt adalah doa orang tua untuk anaknya, termasuk ibunya. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw bersabda, “Ada tiga orang yang doanya akan dikabulkan tanpa ada keraguan lagi: Doa orang yang dizalimi, doa orang dalam perjalanan (musafir) dan doa orang tua untuk anaknya.” (HR. At Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Qurthubi dan An Nawawi. Dipandang hasan oleh At Tirmidzi dan Al Albani. Dipandang lemah oleh At Thabrani dan Al Mubarakfuri.
Wallahu a'lamu bishshawwab.
=========================
Sumber : al 'Arba'una al Jiyad fi Tarbiyati al-Aulad, Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad al Huwaithan

Komentar
Posting Komentar