Langsung ke konten utama

Mewaspadai Sikap Kaum Munafiq Terhadap Al Quran


Hajrul Quran (Menolak dan Meninggalkan Al Quran) tidak hanya dilakukan oleh kaum kafir secara nyata dan terang-terangan. Sikap ini pun dilakukan oleh orang-orang munafik, yakni orang-orang kafir yang pura-pura beriman. Karena pada hakikatnya, orang-orang munafik hanya mengaku sebagai Muslim, tetapi perilaku dan hati mereka bertolak belakang dengan ajaran Islam. 

Beberapa sikap kaum munafik yang diungkapkan dalam Al-Qur'an mencerminkan bentuk pengabaian terhadap Al-Qur'an, meskipun secara lahiriah mereka menampakkan keimanan. 

Kita harus sangat waspada karena jangan sampai kita terjangkiti sikap mereka. Karena hati mereka itu berpenyakit dan tak ada tempat kembali bagi mereka selain azab yang sangat pedih di neraka. Sebagaimana firman Allah Swt, 

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ

"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya; dan bagi mereka azab yang pedih, disebabkan mereka berdusta." (TQS. Al Baqarah: 10)

Berikut beberapa sikap munafik tersebut:

1. Berpura-pura Beriman di Depan Kaum Muslimin.
Orang-orang munafik menunjukkan diri mereka sebagai Muslim, tetapi dalam hati mereka sebenarnya tidak beriman dan tidak mau mengikuti ajaran Al-Qur'an dengan sungguh-sungguh. Mereka hanya berpura-pura beriman demi kepentingan pribadi atau keuntungan duniawi.
Allah Swt berfirman,

  وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ * يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ

"Dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,' padahal mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri tanpa mereka sadari." (TQS. Al Baqarah: 8-9)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merujuk kepada orang-orang munafik, yaitu sekelompok orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhir tetapi menyembunyikan kekafiran di dalam hati mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka beriman untuk mendapatkan manfaat duniawi, menghindari bahaya, atau menipu komunitas Muslim. Secara lahiriah, mereka tampak sejalan dengan orang-orang beriman, tetapi di dalam hati, mereka tidak memiliki iman.

Orang munafik tidak menerima Al-Qur'an dalam hati mereka dan bermuka dua dalam keimanan mereka.

2. Enggan Berhukum dengan Al-Qur'an.
Orang-orang munafik menolak untuk menjadikan Al-Qur'an dan hukum Allah sebagai pedoman dalam kehidupan mereka. Mereka tidak mau berhukum kepada syariat Islam dan bahkan lebih suka berhukum kepada hukum-hukum lain yang sesuai dengan keinginan mereka.

  أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يَزۡعُمُونَ أَنَّهُمۡ ءَامَنُواْ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوٓاْ إِلَى ٱلطَّـٰغُوتِ وَقَدۡ أُمِرُوٓاْ أَن يَكۡفُرُواْ بِهِۦ

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada taghut (setan), padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari taghut itu." (TQS. An Nisa: 60-61)

Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat ini turun berkenaan dengan seorang munafik pada zaman Rasulullah SAW. Dikisahkan bahwa ada perselisihan antara seorang Yahudi dan seorang munafik. Si Yahudi ingin mengajukan perkaranya kepada Rasulullah SAW agar diputuskan, karena ia tahu Rasulullah akan memutuskan perkara dengan adil. Namun, si munafik ingin membawa masalah tersebut kepada seorang hakim lain, karena ia mengira bahwa hakim tersebut akan memberikan keputusan yang menguntungkannya. 

Orang munafiq telah menjadikan hakim lain tersebut sebagai thaghut, yaitu sesuatu yang disembah dan ditaati selain Allah Swt.

Kaum munafik tidak menginginkan Rasulullah dan Al-Qur'an sebagai pedoman hukum karena mereka lebih memilih hukum yang menguntungkan diri mereka.

3. Menghindari Kewajiban Agama.
Orang-orang munafik seringkali mengabaikan kewajiban agama yang diperintahkan dalam Al-Qur'an, seperti shalat dan berjihad di jalan Allah. Jika pun mereka melakukannya, itu hanya untuk pamer agar dilihat orang, bukan karena ketulusan dalam menjalankan perintah Allah Swt.

  إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمۡۖ وَإِذَا قَامُوٓاْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُواْ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلٗا

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (pamer) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (TQS. An Nisa: 142)

Sikap ini menunjukkan bahwa mereka tidak benar-benar menghayati perintah Al-Qur'an dalam ketaatan mereka.

4. Berpura-pura Mendengarkan Ayat Al-Qur'an Hanya untuk Melecehkan dan Mengabaikannya.
Meskipun mereka mendengar dan mengetahui kebenaran Al-Qur'an, orang-orang munafik seringkali balik badan atau berpaling dan tidak peduli terhadapnya. Mereka tidak mengambil pelajaran atau tidak mau tunduk terhadap Al-Qur'an.

Bahkan, mereka menyimak hanya untuk mengesankan bahwa Al Quran itu tidak bisa dipahami dan diamalkan.

  وَمِنۡهُم مَّن يَسۡتَمِعُ إِلَيۡكَ حَتَّىٰٓ إِذَا خَرَجُواْ مِنۡ عِندِكَ قَالُواْ لِلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ مَاذَا قَالَ ءَانِفٗاۚ أُوْلَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ طَبَعَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ وَٱتَّبَعُوٓاْ أَهۡوَآءَهُمۡ

"Dan di antara mereka ada yang mendengarkan perkataanmu (Muhammad), tetapi apabila mereka telah keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang-orang yang telah diberi ilmu (sahabat Nabi), 'Apakah yang dikatakannya tadi?' Mereka itulah orang-orang yang hati mereka telah dikunci oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka." (TQS. Muhammad: 16)

Mereka mendengarkan ayat-ayat Al-Qur'an tetapi tidak mempedulikannya dan tetap mengikuti keinginan nafsu mereka.

5. Memprovokasi Orang untuk Berpaling dari Al Quran.
Selain orang-orang munafik tidak mau berjuang di jalan Allah sebagaimana yang diperintahkan di dalam Al-Qur'an,  mereka pun selalu memprovokasi dan menghasut kaum mukmin untuk berpaling dari Al Quran dengan berbagai alasan. Mereka membuat-buat alasan, supaya terkesan perintah Al Quran itu sangat berat, supaya kaum mukmin menghindari kewajiban ini dan berusaha mengelak dengan berbagai dalih.

  فَرِحَ ٱلۡمُخَلَّفُونَ بِمَقۡعَدِهِمۡ خِلَٰفَ رَسُولِ ٱللَّهِ وَكَرِهُوٓاْ أَن يُجَٰهِدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَالُواْ لَا تَنفِرُواْ فِي ٱلۡحَرِّۗ

"Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka berkata, 'Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.'" (TQS. At-Taubah: 81)

Inilah Hajrul Quran (Pengabaian Al Quran) yang dilakukan oleh kaum munafik. Sangat penting bagi kita untuk senantiasa mewaspadainya. Wal 'iyadzu billah wa la haula wala quwwata illa billah.

Komentar

Populer di Blog Ini

Agar Cinta Menulis

Mencintai pekerjaan adalah sesuatu hal yang sangat penting, begitulah pandangan keumuman kita. Bahkan, keahlian seseorang seringkali dihubungkan dengan kecintaannya pada suatu pekerjaan. Mencintai terlebih dulu pekerjaannya, barulah ada garansi untuk menjadi ahli karenanya. Dunia menulis pun tak luput dari pandangan tersebut. Untuk menjadi penulis, biasanya kita menghubungkannya dengan kecintaan seseorang terhadap aktifitas menulis. Misal, ketika seseorang suka menulis sedari kecil, disimpulkanlah bahwa ia berbakat menjadi seorang penulis. Benarkah mesti demikian adanya? Penulis tidak membantah adanya kesukaan seseorang terhadap menulis sedari kecil. Mungkin memang benar demikian adanya. Penulis pun tak menampik bahwa mencintai menulis adalah sesuatu yang penting. Karena, cinta menulis akan membuat kita enjoy bersamanya. Namun, penulis kurang setuju jika cinta menulis merupakan bakat bawaan sedari lahir. Sehingga, ia tak bisa disemai dan ditumbuhkan. Ada dua hal pokok yang b...

Mengawal Gerakan Literasi

sumber gambar : literasi[dot]jabarprov[dot]go[dot]id. Geliat aktifitas literasi dan kepenulisan generasi muslim belakangan ini memang begitu menggairahkan. Hal ini seolah memberikan banyak harapan dan angin segar kebangkitan. Apalagi dengan berbagai kemudahan fasilitas berkarya dan memublikasikannya. Geliat ini bukan sekedar isapan jempol. Karena sebuah tulisan, konon bisa memberikan pengaruh yang lebih besar dan lebih lama dibandingkan sebuah ucapan. Sehingga sangatlah besar ekspektasi terhadapnya; geliat kepenulisan generasi muslim akan menghantarkan pada geliat kebangkitan Islam.    Sebagaimana aktifitas membaca, sebenarnya aktifitas menulis tidaklah akan menghantarkan pada kebangkitan masyarakat. Karena pada hakikatnya, membaca dan menulis hanyalah bagian dari sarana penyerapan dan penyampaian informasi. Informasi tersebutlah yang akan disimpan sebagai pemikiran di dalam otak kemudian pandangan hidup (aqidah) yang dimiliki setiap insan akan menentukan apakah pe...

Langkah Praktis Menulis Via Blog Mulai dari Nol

Rekan-rekan semua, berikut akan saya paparkan bagaimana tips praktis membuat blog dengan blogger. Mari kita ikuti langkah-langkah berikut : Bagi yang belum punya email, masuk ke  www.gmail.com Pilih  Buat akun   Isi formulir pada tampilan berikut dan ikuti langkah sampai konfirmasi bahwa email sudah aktif.   Jika email sudah aktif, silahkan masuk ke  www.blogger.com Klik  Tambahkan Akun  pada tampilan berikut : Setelah muncul tampilan di bawah ini,  Masukkan email rekan-rekan semua, sebagai contoh saya masukkan email saya ary.smknkadipaten@gmail.com, klik berikutnya, lalu isikan password email rekan-rekan semua. Pilih Buat Profil Google+ lalu ikuti langkah selanjutnya (saya sarankan memakai identitas sesuai KTP, karena kita sedang membuat kartu nama di dunia maya). Sampai muncul seperti di bawah ini atau yang semisalnya (mungkin tampilan berbeda-beda tergantung lengkapnya langkah yang diambil). Lalu, pilih  Lanjutk...

Total Tayangan